Friday, December 14, 2007

Nilai Hidup Bangsa Jepang

“Mereka yang pernah mendaki Gunung Fuji, layak disebut orang bijak. Namun, mereka yang mendaki untuk kedua kalinya, layak disebut orang bodoh.” - Rahasia Pepatah Jepang -

Gunung Fuji dengan ketinggian 3.776 meter merupakan gunung tertinggi sekaligus simbol bagi rakyat Jepang. Bentuknya yang megah semakin memantapkan julukannya sebagai gunung keramat. Konon, wanita sempat dilarang keras mendaki gunung tersebut karena dewi Gunung Fuji akan cemburu.

Gunung Fuji yang berarti “keabadian” menjadi pembangkit semangat bagi masyarakat Jepang untuk terus berpikir kreatif tatkala keadaan mulai kian mustahil. Inilah salah satu faktor mengapa Jepang bisa sukses menguasai dunia walau memiliki segunung kekurangan.

Bangsa Jepang tidak pernah memiliki peradaban yang hebat dan sejarah yang bisa dibanggakan seperti Negara-negara lain.
Negaranya cantik dan indah, tetapi tidak memiliki hasil alam yang bisa dimanfaatkan. Orangnya kecil dan pendek. Namun, di balik segala kekurangannya itu, mereka berjiwa besar dan memiliki impian yang melebihi kemampuan geografisnya. Budayanya unik dan nilai tradisinya mempesona. Wanitanya seperti gadis pingitan yang sangat pemalu dan segan. Prianya tegas dan garang seperti samurai yang siap perang. Gunung Fuji selalu menjadi sebutan karena diselimuti salju putih dan mendamaikan siapa pun yang memandangnya.

Kita kenal bangsa Jepang karena mereka pernah menjajah tanah Melayu. Banyak yang membenci bangsa Jepang karena kekejaman dan keganasan yang dilakukannya. Bagaimanapun, bangsa Jepang kini sudah berubah. Kedatangan mereka tidak lagi ingin menjajah dan menguasai hasil kekayaan negara yang mereka datangi. Kedatangan bangsa Jepang untuk berdagang dan mencari peluang ekonomi baru. Mereka membuat perindustrian dan mendirikan perusahaan- perusahaan di semua tempat. Tujuannya hanya mencari keuntungan demi membangun kembali ekonominya seperti sediakala. Tujuannya menjadi negara maju dan penguasa ekonomi dunia sudah tercapai. Meskipun sudah menjadi sebuah negara kaya dan tersohor, tetapi mereka tidak pernah berhenti bekerja. Mereka terus berusaha memperbaiki prestasi mereka di bidang ekonomi.

Faktor utama kesuksesan bangsa Jepang terletak pada budaya kerja, sistem etika, pengelolaan yang bagus, kreativitas, dan semangat juang tinggi tanpa mengenal arti kekalahan. Mereka menjadi kebanggaan Asia karena dapat mengatasi pihak Barat dari segi prestasi dan produktivitasnya. Bangsa Jepang terkenal rajin dan optimis. Cara mengendalikan suatu masalah dan pekerjaan berbeda dari gaya Barat. Keberhasilan bangsa Jepang sangat mengagumkan sehingga menimbulkan berbagai pertanyaan seputar formula yang mereka gunakan. Kesuksesan Jepang tersebut luar biasa, meskipun mereka pernah musnah saat Perang Dunia berakhir. Banyak penelitian yang menyoroti budaya kerja dan rahasia kesuksesan bangsa Jepang. Hal ini terbukti dengan banyak diterbitkannya buku-buku yang berkaitan dengan Jepang. Banyak aspek mengenai bangsa Jepang yang disentuh, termasuk aspek pemikiran dan pengelolaan. Terdapat pula tulisan yang terlalu bersifat teknik dan sukar dipahami karena diterjemahkan dari buku-buku yang diterbitkan di Jepang.

Tulisan ini dapat menjadi rujukan, panduan, dan motivasi agar kita dapat lebih dekat mengenal bangsa Jepang. Hal positifnya, banyak rahasia dan formula yang dapat digali dari mereka. Formula ini sebenarnya bukan rahasia lagi. Kita sudah mengetahuinya, tetapi kita tidak pernah menggunakannya. Formula kesuksesan bangsa Jepang mudah dan lebih gampang daripada formula matematika. Untuk mencapai sukses, formula ini harus digunakan dan dipraktikkan. Jika tidak, maka akan tetap menjadi formula dan rahasia yang nantinya akan hilang oleh perubahan waktu dan zaman. Jika bangsa Jepang bisa melakukannya, maka tidak ada alasan untuk kita gagal melaksanakannya. Kekuasaan ada di tangan kita dan bukan terletak pada negara.


Sumber: Retno Kintoko dari buku Rahasia Bisnis Orang Jepang - Ann Wan Seng
Milis : InspirasiIndonesia@yahoogroups.com


Thursday, December 13, 2007

Belajarlah dari Cina

Baru-baru ini saya mendapatkan beasiswa Asian Fellowship Award yang diberikan kepada dosen dan karyawan LSM minimal berjenjang S2 dari negara berkembang di Asia untuk melakukan penelitian di negara Asia lainnya di bidang seni, budaya dan sosial. Kebetulan S1 dan S2 saya di bidang sinologi dan saya meneliti tentang masalah-masalah sosial dalam keluarga Cina. Saya sekarang menjadi peniliti di universitas Xiamen.

Terus terang saya sangat kaget ketika sampai di Xiamen. Xiamen terkenal sebagai kota industri dan juga pendidikan, mungkin sekelas semarang di Indonesia. Setelah 10 tahun tinggal di luar Cina saya harus mengakui Cina bukanlah negeri seperti yang kebanyakan orang Indonesia pikir. Bandara Xiamen sangat modern dan efisien, lebih baik dari bandara Soekarno-Hatta, jalan- jalannya luas, tidak ada kemacetan, di manapun kita pergi kita melihat taman yang tertata dengan rapih dan terpelihara. Satu hal yang paling mencengangkan adalah saya tidak melihat sampah. Orang-orang yang berjualan di pinggir jalan pun sangat teratur, sangat berbeda dengan kesan yang kita tahu bahwa orang Cina sangat jorok.

Transportasi sistem pun sangat baik, mereka sudah menerapkan kartu chip untuk naik bis, jadi kita hanya perlu beli kartu isi ulang yang harus ditempelkan pada mesin elektronik saat naik bis. Meskipun bis tidak terikat waktunya, semua orang menunggu bis di halte, naik di pintu depan, pintu bis selalu tertutup saat di jalan dan tidak pernah bis terlalu penuh seperti di Jakarta.

Kampus Xiamen University pun tidak kalah dengan kampus-kampus di Australia. Seluruh gedung diperlengkapi dengan AC, bahkan di dalam asrama-asrama mahasiswa (disini hampir semua mahasiswa tinggal di asrama). Internet ada di mana-mana, bahkan di asrama untuk orang asing pun akses internet bebas 24 jam hanya dengan membayar Rp 30.000,-. Telepon pun sangat murah. Fasilitas kampus pun sangat luar biasa, mulai dari kelas-kelas berAC yang dilengkapi dengan LCD, danau, stadion olahraga dan kolam renang berukuran standar internasional, pelayanan yang sangat efisien, dsb. Kartu mahasiswa bersifat multifungsi, bisa digunakan sebagai kartu untuk membeli makanan, berbelanja, fotokopi dan akses ke berbagai perpustakaan.

Dalam dua tahun belakangan ini saya berkesempatan beberapa kali berkunjung ke Thailand dan Cina untuk sekolah. Benar-benar saya merasa malu dengan negeri kita, karena kita jauh sekali tertinggal dengan negara-negara yang 10 tahun yang lalu ada di bawah kita. Thailand sudah beberapa tahun yang lalu memiliki monorail dan tahun lalu membuka subway, dan Cina sangat mengejutkan saya dengan kebersihan dan kedisiplinan masyarakatnya memelihara lingkungan dan mempertahankan etos kerja dan kebersihan lingkungan.

Terus terang saya adalah orang yang anti pemerintah karena saya memang banyak kecewa dengan pemerintah, sehingga saya sering berkata bahwa satu-satunya hal yang saya bisa banggakan dari negeri saya adalah budayanya yang tinggi. Sayangnya memang masyarakat kita terus dikungkung dan dibiarkan menjadi bodoh dan kita tidak sadar bahwa sekarang negara- negara Asia yang dulunya tidak kita pandang sebelah matapun sebenarnya sudah jauh berada di depan kita.

Ada tanggapan?


Sumber: Anggiet; www.milisbeasiswa.com/opini/ 2005/10/belajarlah-dari-cina.html - 22k )

Etos Kerja Cina

Sebelum Hongkong kembali ke pangkuan Republik Rakyat Cina (RRC), penulis bersama sang istri pertama kali menginjakkan kaki di RRC melalui tour beberapa hari dari Hongkong ke Shen Zen, Guang Zhou, Macao dan kembali lagi ke Hongkong. Di Guang Zhou penulis menginap di Garden Hotel yang terletak di jantung kota, di mana lingkungan sekelilingnya dapat dikatakan masih agak kumuh.

Di pinggir jalan lingkungan tersebut, masih banyak terdapat segala jenis makanan dengan kereta dorongnya. Penulis dan istri berada bersama dengan rombongan yang terdiri dari beberapa teman turis yang berasal dari beberapa negara, yaitu Inggris, Jerman, dan Australia. Tengah malam waktu setempat, penulis dan istri menyempatkan diri ke luar mencari angin sembari melihat trotoar yang dipenuhi berbagai macam jualan makanan. Ular, biawak, kelelawar dan banyak lagi jenis makanan yang dapat dikatakan sangat aneh dan luar biasa, dijajakan di sepanjang trotoar. Setelah kunjungan berikutnya pada tahun 1999 dan tahun 2000, penulis kaget pada saat datang untuk yang ke berapa kalinya ke Guang Zhou pada tahun 2004 yang lalu, lingkungan luarnya sudah tertata rapih. Penulis tidak menyangka lingkungan yang dapat dikategorikan sebagai lingkungan yang kumuh sudah tertata rapih dan bersih, sehingga dapat disejajarkan dengan daerah Orchard Road di Singapura.

Penulis perhatikan sepanjang jalan di kota, dari satu tempat ke tempat yang lain selalu saja ada crane tinggi yang menandakan aktivitas pembangunan gedung bertingkat tinggi sedang berlangsung. Konon khabarnya, di Kota Guang Zhou sendiri, setiap hari selesai satu gedung bertingkat tinggi. Tentu bisa dibayangkan aktifnya pembangunan di kota itu. Ditambah lagi, penulis sangat menikmati sistem Mass Rapid Transport (MRT) bawah tanah yang tidak kalah sistem dan fasilitasnya dengan yang di Singapura. Belum lagi di seluruh dataran RRC setiap tahun terbangun jalan tol antar kota sepanjang 10.000 km. Bandingkan dengan jalan tol di seluruh Indonesia mungkin belum mencapai 10.000 km saat ini. Memang nyatanya, negeri RRC saat ini sedang membangun secara besar-besaran, sehingga menyedot bahan material bangunan seperti semen dan besi dari se antero dunia. Tidak heran kalau setahun terakhir ini terasa sekali harga material besi beton naik secara drastis disebabkan oleh kebutuhan negeri RRC.

Pemerintahan RRC saat ini sedang terobsesi untuk mensukseskan proyek super raksasa untuk acara Olimpiade 2008 yang akan datang sebagai ajang promosi yang efektif untuk memperkenalkan negaranya ke pada dunia, bahwa betapa sudah maju dan makmurnya negara mereka.

Penulis sempat melihat gudang dan pabrik pembuatan granito yaitu sejenis keramik berkualitas tinggi yang mirip dengan granit alam. Kalau di Indonesia kompetibel dengan Essenza. Di dalam pabrik itu penulis melihat tulisan sangat besar di temboknya, yang terjemahannya, "Hari ini malas bekerja, besok rajin cari kerja!" Sebuah peribahasa yang menjunjung tinggi etos kerja, bahwa barangsiapa yang kerjanya bermalas-malasan, akan diusir ke luar pagar perusahaan, dan silakan untuk rajin cari kerja bila masih ada rasa tanggung jawab untuk meneruskan mata pencahariannya.

Dengan etos kerja yang tinggi, dan bekerja enam hari dalam seminggu dengan penghasilan sekitar Rp1.000.000 sebulan, dapat dibayangkan betapa rendahnya biaya buruh (labor cost) untuk produknya. Dengan jam kerja yang lama dan hasil kerja yang baik otomatis akan menghasilkan volume produksi yang besar. Gaji satu juta dibagi 1.000 produk per bulan, di pabrik X misalnya, akan mengeluarkan biaya buruh sebesar Rp1.000 per produk. Bandingkan bila di pabrik Y, dengan gaji satu juta dibagi dengan hanya 200 produk per bulan, maka akan memberikan biaya buruh tinggi yaitu Rp5.000 per produknya. Bagaimana kalau sebuah produk melalui tiga kali proses nilai tambah yang sama, maka alhasil biaya buruh di pabrik X akan hanya sebesar Rp3.000 per produk, sedangkan biaya buruh di pabrik Y akan sebesar Rp15.000 per produk. Tidak mengherankan, budaya kerja keras dengan kerja enam hari dalam seminggu dan kerja cerdas dengan etos kerja kerja yang tinggi, produk buatan RRC sudah meraup pasar di seluruh dunia, Afrika, Timur Tengah, Asia, Eropa, maupun benua Amerika .

Dengan kompetisi dalam hal labor cost ini, kita bisa melihat gejala yang terjadi di Tanah Abang, yaitu beberapa tahun yang lalu masih terlihat pedagang-pedagang grosir dari negara asing, yang umumnya banyak dari Afrika, sekarang sudah menghilang dan berpindah ke RRC. Bisa dibayangkan betapa naasnya kehidupan perdagangan di Tanah Abang yang sudah kehilangan para pelanggannya, yang sebelumnya sudah memberikan devisa bagi negeri kita. RRC rupanya sudah mengantisipasi kompetisi dalam scope globalisasi ini, sehingga persaingan globalisasi dengan strategi economy's of scale dengan menjadikan dunia sebagai target market-nya, telah memenangkan pertandingannya lawan negara-negara lainnya termasuk Indonesia. Kesempatan devisa yang seharusnya masuk ke negeri kita, sudah disedot RRC!

Saat ini RRC, dengan luas daratan 10 juta km2 (bandingkan Indonesia dua juta km2), berpenduduk 1,3 miliar, sekitar seperempat dari jumlah penduduk dunia. Untuk mencegah pertumbuhan penduduk yang pesat, yang rentan membebani pertumbuhan perekonomiannya, pemerintah membatasi hanya satu anak saja untuk setiap keluarga. Bila lebih, keluarga tersebut harus menanggung biaya sendiri yang akibatnya akan sangat membebani perekonomian keluarga itu sendiri. Dari kebijakan keluarga berencana itu saja, RRC sudah memposisikan dirinya lebih kompetitif dengan negara-negara lainnya. Sejak kemerdekaan di tahun 1949, pemerintahan RRC yang komunis ini membuat program pembangunan per lima tahun.
Mao Tse Dong sebagai pemimpin tertinggi RRC menerapkan sistem perekonomian berlandaskan komunisme yaitu setiap warga negara mempunyai kesetaraan yang sama dalam tingkat kehidupannya, dengan memfokuskan kepada ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Dengan sejarah negeri Cina sejak ribuan tahun yang lalu, dan dengan sejarah beberapa puluh tahun terakhir sejak negeri ini menjadi komunis, pada awal 1980-an, Deng Shiao Ping belajar bahwa negeri ini harus tetap kuat dalam pemerintahannya, tetapi strategi ekonominya harus dirubah. Lalu dia buat kebijakan baru untuk sistem perekonomiannya yaitu dengan sistem kapitalisme dan desentralisasi. Kebijakan-kebijakan dibuat untuk meningkatkan produktivitas dalam pertanian dan industri dan dengan membuka pintu untuk investor asing. Setelah 20 tahunan kebijakan baru diterapkan, penulis sudah melihat langsung perkembangan perekonomiannya, khususnya Kota Guang Zhou, Shen Zhen dan sekitarnya. Kelihatannya lumbung-lumbung kota-kota ini cukup banyak uangnya dan malah lebih dari cukup karena dapat dilihat dari pertumbuhan pembangunan kota dan keasrian kota yang tetap terpelihara dengan rapih dan bersih. Fenomena yang terlihat dari kasat mata, misalnya, Kota Guang Zhou mampu mengkonsumsi listrik dengan boros dan berlebihan pada malam harinya, dan tidak mempunyai istilah pasdak (padam secara mendadak). Kalau adapun terjadi hidup mati lampu itu hanya bisa terjadi sekejap saja dan hanya terjadi di segelintir tempat yaitu kalau kita melewati klub malam alias tempat-tempat diskotik. Dengan fenomena ini pertumbuhan ekonomi RRC telah mendapat pengakuan oleh badan dunia yaitu International Monetary Fund (IMF) yang meranking ekonomi RRC sebagai urutan ketiga setelah Amerika Serikat (AS) dan Jepang.

Dalam kebijakan-kebijakan barunya, RRC fokus dalam menyusun programnya secara sistematis dan konsisten. Langkah demi langkah, proses demi proses, pertumbuhan ekonomi dicapai sesuai dengan target enam perse setahun, malah kadang-kadang melebihi, bisa mencapai 13 persen seperti pada tahun 1992. Dengan strategi membuka Free Trade Zone seperti di Shen Zhen, yaitu dengan tujuan membuat Shen Zhen sebagai gula dan lokomotif ekonomi bagi daerah- daerah di sekitarnya, maka cepat atau lambat daerah-daerah sekitarnya akan kecipratan berkah dan rejekinya dan lama kelamaan akan terangkat menjadi sama dengan pertumbuhan Kota Shen Zhen itu sendiri dengan cara belajar dari Shen Zhen sebagai bench-mark atau tolok ukurnya.

Pemerintah daerah sangat berkomitmen untuk mengembangkan daerahnya dengan misi menciptakan lapangan kerja yang cukup bagi warga daerahnya. Sebagai contoh, apabila ada calon investor asing datang ke suatu daerah di sana, kepala daerahnya rela dan tidak segan-segan menemani calon investor itu, walaupun bisa menyita waktunya sampai seminggu. Pemerintah daerah mau berkorban untuk menyediakan lahan secara gratis (kalau di Batam sama dengan UWTO gratis 80 tahun) dan bersedia menginvestasikan sarana dan prasarananya termasuk jalan, drainase, air, listrik dan telepon, asal calon investor itu mau membangun dan membuka industri dengan menyerap tenaga kerja daerahnya.

Dengan terjadinya kebangkitan ekonomi RRC yang fenomenal ini, sudah banyak orang memprediksi bahwa bahasa Mandarin akan mendominasi dunia selain bahasa Inggris. Yang lebih menakjubkan lagi, RRC sudah berani memprediksikan dirinya pada tahun 2020 perekonomiannya akan melampaui perekenomian AS. Fenomena bangkitnya perekonomian RRC bukan seperti membalikkan tangan, tetapi pasti ada tangan-tangan para pemimpin di RRC yang menangkap visi-misi Deng Xiao Ping yang melaksanakannya dengan determinasi yang tinggi dan dengan tangan yang dingin.

Sumber: Ir.Richard Pasaribu, MSc
www.freelist.org/archives/nasional_list/01-2005/msg00472.html

Monday, December 10, 2007

Mengapa Industri Jepang Bisa Maju?

KETIKA pertama kali tinggal di Jepang saya terheran-heran mengetahui bahwa listrik di Jepang tekanannya 110 volt. Saya terheran-heran karena belum lama sebelumnya di Jakarta rumah saya listriknya diubah dari 110 volt menjadi 220 volt dan perubahan itu bukan pula tanggungan PLN yang memaksakan perubahan, melainkan menjadi tanggungan pengguna listrik. Dengan berat hati saya membayar biaya perubahan itu dengan perkiraan bahwa untuk menjadi negara industri listrik haruslah 220 volt. Pada waktu itu pemerintah Orde Baru memang sedang bersemangat membangun negara dari negara pertanian menjadi negara industri.

Tetapi, mengapa Jepang yang sudah menjadi negara industri yang maju dan dikagumi dunia masih tetap memakai listrik dengan 110 volt? Suudon saya timbul, listrik di Indonesia oleh PLN dipaksa berubah menjadi 220 volt bukanlah karena tekanan 220 volt memang menjadi prasarat agar kita menjadi negara industri, melainkan karena para pejabat PLN termakan komisi dari perusahaan yang menjadi pemborong perubahan voltasi itu. Sangkaan saya dibuktikan juga oleh sejarah, meskipun sudah bervoltasi 220 volt, Indonesia belum juga menjadi negara industri, malah ambruk menjadi negara pengutang ratusan miliar dolar Amerika yang kerja pemerintahnya berkeliling meminta-minta kepada negara-negara maju, kalau perlu dengan melakukan apa pun juga yang mereka maui.

Dengan listrik 110 volt, Jepang mencukupi kebutuhan seluruh rumah tangga di seluruh Jepang, dari Okinawa sampai Sapporo, termasuk di daerah-daerah terpencil, baik untuk keperluan penerangan maupun untuk keperluan sehari-hari lainnya seperti mesincuci, kulkas, pemanas udara dan pemanas air dan sebangsanya. Dan tekanan 110 volt itu konstan sepanjang hari, tidak seperti di Jakarta yang biasanya turun jauh pada waktu malam karena banyak pemakaian dan pencurian listrik. (Sekarang pun setelah 220 volt keadaannya masih tetap saja).

Selama tinggal di Jepang 22 tahun hanya sekali saya mengalami listrik mati. Itu pun diberitahukan sebulan sebelumnya. Dengan listrik 110 volt Jepang memenuhi kebutuhan listrik untuk menggerakkan keretaapi baik yang di atas maupun yang di bawah tanah. Dengan listrik 110 volt Jepang menggerakkan mesin industrinya sehingga dikagumi bahkan juga oleh negara-negara maju: industri otomotif, industri perkapalan, industri elektronik dll.

Sesuatu negara menjadi negara industri bukan karena listriknya dirubah dari 110 volt menjadi 220 volt, melainkan karena kerja keras para penduduknya. Modal memang penting juga, tetapi bukan segala-galanya. Jepang sehabis perang adalah negara miskin yang gambarannya sekarang masih tampak misalnya dalam film-film yang dibuat pada tahun-tahun pertama sehabis perang antaranya oleh Kurosawa Akira. Jepang menggeliat menjadi negara industri karena kesempatan yang timbul oleh adanya Perang Korea. Modal Amerika melimpah ruah ke sana. Tetapi, modal itu menjadi berkembang mendorong industri nasional Jepang disebabkan oleh karena orang Jepang sendiri mempunyai etos kerja yang luar biasa.

Begitu hebatnya semangat kerja orang Jepang sehingga disebut sebagai workholic (turunan dari alcoholic) oleh bangsa-bangsa lain seperti Amerika dan Eropa. Pada waktu perkembangan ekonomi Jepang luar biasa, sehingga seorang sarjana Amerika menulis buku Japan as Number One. Berbagai studi dan buku tentang manajemen Jepang, semangat kerja orang Jepang dll diadakan dan diterbitkan. Perbandingan antara manajemen Jepang dan Barat dilaksanakan, dicari keistimewaannya sehingga bisa 'mengalahkan' kemajuan Barat. Orang Amerika dan orang-orang Eropa merasa kuatir dominasi ekonominya terkalahkan. Mereka mendesak orang Jepang agar mengurangi semangat kerjanya. Mereka mendesak agar Jepang mengikuti jejak mereka tidak bekerja pada hari Sabtu. Lima hari dalam seminggu bekerja sudah cukup, kata mereka. Dengan berat hati Jepang mengikuti desakan itu sehingga akhirnya mereka pun secara resmi hari Sabtu diliburkan.

Tetapi, di kalangan orang Jepang sendiri terdengar kecemasan karena melihat generasi muda yang lebih santai dan egoistis dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka cemas akan hari depan bangsa Jepang kalau generasi mudanya tidak lagi memiliki semangat dan etos kerja seperti mereka. Sementara itu, biaya hidup di Jepang kian meningkat. Tenaga kerja kian mahal sehingga industri Jepang tak bisa bersaing dengan negara-negara baru berkembang seperti Korea, Taiwan, Hongkong dan Singapura. Para pemodal Jepang memindahkan pabriknya ke negara-negara berkembang yang tenaga buruhnya lebih murah. Indonesia mula-mula menjadi salah satu negara pilihan untuk menanam modalnya, namun kemudian karena Indonesia kian korup dan tidak ada jaminan hukum, sedikit demi sedikit ditinggalkan. Cina, Thailand, Vietnam, dll. menjadi pilihan yang lebih menarik. Krisis perbankan dan korupsi yang terjadi di Jepang sendiri, melemahkan industri Jepang dan menimbulkan krisis perekonomian yang berkepanjangan.

Oleh karena itu, kalau kita hendak menjadikan Jepang sebagai cermin, akan kelihatan bahwa Jepang berkembang menjadi negara industri pada masa sesudah Perang Dunia II (ketika dia dikalahkan oleh Amerika dan sekutunya), adalah berkat kerja keras mereka sebagai bangsa yang mempunyai etos kerja yang tinggi. Mereka ingin membangun bangsa dan negaranya dari reruntuhan Perang Dunia, maka mereka bekerja dengan penuh kesungguhan sambil benar-benar mengencangkan ikat pinggang. Setelah mereka mencapai kemajuan yang membuat bangsa-bangsa maju lainnya irihati, mulailah bermunculan penyakit korupsi, egoisme, nepotisme dan berbagai penyakit sosial lainnya yang pada akhirnya menyeret bangsa Jepang ke lembah resesi ekonomi sehingga mereka tak bisa mencapai atau mempertahankan gelar as number one.

Apakah mereka akan keluar dari krisis berkepanjangan yang sekarang mereka alami? Tentu hal itu tergantung kepada usaha dan kerja keras mereka sendiri. Tetapi, konon usaha perbaikan sering menghadapi hambatan karena adanya mentalitas busuk peninggalan masa sedang jaya karena banyak orang yang merasa keenakan dengan kehidupan demikian sehingga enggan untuk mengubahnya-- meskipun demi kemajuan bangsa.

Kalau cermin Jepang kita terapkan pada diri kita sendiri: Kapankah dalam sejarah kita setelah merdeka pada tahun 1945 kita pernah bersungguh-sunguh hendak membangun (ekonomi) bangsa sehingga berkembang menjadi negara industri? Memang rencana dan slogan pernah disusun berkali-kali. Tetapi, apakah dalam pelaksanaannya kita mengerjakannya dengan sungguh-sungguh? Lima tahun pertama setelah proklamasi kemerdekaan kita sibuk dengan perang kemerdekaan mengusir Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda dan beberapa negara lain, kita mempunyai dua konsep tentang pembangunan ekonomi bangsa.

Konsep pertama dari Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo, yang menjadi Menteri Kemakmuran dan kemudian Menteri Keuangan, yang menghendaki Indonesia menjadi negara industri, dengan mendirikan pabrik-pabrik bahan yang kita perlukan untuk membangun. Yang pertama mendirikan pabrik semen Gresik, untuk itu kita meminjam uang beberapa ratus juta dolar dari luar negeri. Dengan adanya pabrik semen dan pabrik-pabrik lain diharapkan industri kita akan berkembang pesat. Untuk itu pemerintah menyediakan kredit kepada para pengusaha nasional. Ternyata dalam praktik harapan itu tidak tercapai karena kredit yang diberikan sebagian besar jatuh ke tangan 'pengusaha aktentas' yang mendapat rekomendasi dari partai-partainya.

Konsep yang kedua berasal dari Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang ketika itu menjadi Gubernur Bank Indonesia. Konsep beliau berlandaskan kepada pertanian. Menurut beliau, sektor pertanianlah yang harus didahulukan. Untuk itu perlu dibuka jutaan km2 sawah oleh para petani kita. Untuk itu kita tidak usah meminjam uang dari luar karena untuk membuka hutan dan mengerjakan sawah bisa dilakukan dengan alat-alat sederhana seperti cangkul yang bisa kita buat sendiri. Dengan uang beberapa ratus juta dolar yang dipakai untuk memodali pabrik semen Gresik menurut beliau bisa memberi jalan hidup kepada puluhan bahkan ratusan ribu orang petani, sedangkan yang akan terlibat dengan kegiatan pabrik semen, termasuk dengan para penyalur, hanya beberapa ribu orang saja.

Karena Prof. Dr. Soemitro ketika itu menduduki jabatan eksekutif, konsep beliaulah yang dilaksanakan. Ternyata dalam praktik harapan agar industri kita berkembang pesat tidak tercapai, karena kredit yang diberikan sebagian besar jatuh ke tangan para pengusaha lisensi, yaitu mereka yang karena mendapat rekomendasi dari partainya mendapat berbagai kemudahan kredit yang digunakan tidak sesuai dengan peruntukan memajukan perindustrian. Oleh karena itu, bukan industri yang berkembang, melainkan korupsi. Apalagi setelah Sukarno merebut kekuasaan dengan dukungan Angkatan Darat (Jenderal Nasution) melalui Dekrit Presiden tahun 1959 yang memberlakukan lagi Undang-undang Dasar 1945 dan membubarkan Konstituante yang hampir rampung menyelesaikan pekerjaannya dan kedua konseptor pembangunan ekonomi itu lari dari Jakarta. Dr. Soemitro kabur ke luar negeri karena konon menggabungkan diri dengan kaum pemberontak. Mr. Sjafruddin sendiri setelah habis cutinya di Palembang tidak mau kembali ke Jakarta dan mengikuti rapat di Sungai Dareh yang memberi ultimatum kepada Presiden Sukarno agar membentuk kabinet secara demokratis. Dan, karena ultimatum itu dijawab oleh pemerintah pusat dengan menjatuhkan bom di Painan, mereka membentuk kabinet tandingan (PRRI) dengan Mr. Sjafruddin Prawiranegara menjadi Perdana Menteri, kemudian menjadi Presiden RPI (Republik Persatuan Indonesia).

Pada masa Demokrasi Terpimpin, walaupun Soekarno mengumumkan konsep Ekonomi Terpimpin, ekonomi Indonesia kian hancur karena Soekarno sendiri tidak mengerti ekonomi dan para pembantunya hanya melayani apa yang dimaui oleh Pemimpin Besar Revolusi saja --yaitu keinginan Soekarno sendiri. Soekarno berlaku seperti raja yang mementingkan ambisi-ambisinya dijalankan dengan patuh dan agar para pembantunya dapat menyediakan uang yang dia perlukan setiap waktu dia perlukan untuk memuaskan ambisinya, maka ia memberi keleluasaan kepada orang-orang itu untuk mempergunakan fasilitas menggunakan uang negara. Pada masa Orde Baru, konsep ekonominya seperti mau menggabungkan konsep Sjafruddin dan Soemitro, namun ilmu korupsi para pejabat kian lihai karena pemerintah Orde Baru menguras habis-habisan minyak bumi, hutan dan kekayaan laut untuk memperkaya diri sehingga berakhir dengan ambruknya Indonesia sebagai bangsa dan negara.***

Sumber: Ajip Rosidi www.pikiran-rakyat.com/cetak/0203/18/0804.htm - 24k

Sistem Pendidikan di Jepang

Jepang merupakan salah satu negara termaju dalam berbagai bidang kehidupan: ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan, sosial, politik, dll. Kemajuan-kemajuan ini tentu berkaitan erat dengan kemajuan pendidikan.

Bagaimana sistem pendidikan di Jepang?

Sistem pendidikan di Jepang dibangun atas prinsip-prinsip:

  • Legalisme
  • Administrasi yang demokratis
  • Netralitas
  • Penyesuaian dan penetapan kondisi pendidikan
  • Desentralisasi.

Pendidikan bertujuan:

  1. Mengembangkan kepribadian secara penuh dengan
  2. Berupaya keras membangun manusia yang sehat pikiran dan badan,
  3. Yang mencintai kebenaran dan keadilan,
  4. Menghormati perseorangan,
  5. Menghargai kerja,
  6. Mempunyai rasa tanggungjawab yang dalam, dan
  7. Memiliki semangat independen sebagai pembangun negara dan masyarakat yang damai.

Sistem administrasi pendidikan dibangun dalam empat tingkat: pusat, prefectural (antara propinsi dan kabupaten), municipal (antara kabupaten dan kecamatan), dan sekolah. Masing-masing tingkat administrasi pendidikan tersebut mempunyai peran dan kewenangan yang saling mengisi dan bersifat kerjasama. Disamping itu, terdapat asosiasi-asosiasi kepala sekolah, guru, murid, dan orang tua yang mendukung pengembangan sekolah.

Contoh tujuan pendidikan untuk tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) yang dirinci sampai tingkat kelas dapat dilihat dalam Gambar 1.



Gambar 1 Tujuan Pendidikan di Kawanigashi Junior Secondary School.

Tujuan pendidikan tersebut adalah untuk membesarkan anak yang sehat pikiran dan badan serta penuh estetika, sehingga dihasilkan murid yang ideal, yaitu murid yang selalu melatih diri sendiri, mengikuti aturan, bersedia bekerja secara sukarela, dan mempunyai dasar untuk berpikir secara internasional.

Selanjutnya, tujuan pendidikan di tingkat sekolah tersebut dijabarkan lagi ke dalam tujuan di masing-masing kelas seperti yang dapat dilihat dalam Gambar 1. (Kawanigashi Junior Secondary School, 2000).

Tujuan pendidikan ini lebih lanjut dijabarkan untuk setiap mata pelajaran dan bahkan untuk setiap pertemuan kelas. Untuk mencapai tujuan tersebut diuraikan materi apa yang akan dibahas, apa yang harus dilakukan murid, dan apa yang harus dilakukan guru, serta bagaimana cara melakukannya yang semuanya dinyatakan dalam rencana kerja (working plan) yang disiapkan guru untuk setiap pertemuan kelas. Dengan demikian, baik murid maupun guru memiliki pedoman arahan yang jelas dalam proses belajar-mengajar.

Pada umumnya metode pengajaran yang digunakan di sekolah-sekolah di Jepang adalah kombinasi dari:

  • Penjelasan dari dan tanya jawab dengan guru,
  • Diskusi antar murid, dan
  • Eksplorasi oleh murid sendiri dengan menggunakan alat pembelajaran.

Di awal biasanya murid memberikan penjelasan sebagai pengantar, kemudian murid melakukan diskusi sesama mereka dan atau mengeksplorasi menggunakan alat pembelajaran seperti multimedia, laboratorium, dll. sesuai dengan mata pelajaran dan kebutuhan. Hasil diskusi dan atau eksplorasi tersebut lalu dipresentasikan di depan kelas dengan bimbingan guru.


Sumber: Abas Ghozali
* Penelitian ini didanai oleh the Japan Intenational Cooperation Agency (JICA).

Wednesday, December 5, 2007

Etos Kerja Indonesia terburuk di Asia?

MENGAPA investasi asing di Indonesia terus menurun, justru pada saat negara-negara lain mengalami pemulihan, bahkan lonjakan tajam arus masuk investasi? Juga, kenapa investor hengkang, padahal dalam berbagai kesempatan para pejabat pemerintah masih begitu 'pede'-nya menyatakan, Indonesia sangat kompetitif, terutama dengan sumber daya melimpah dan upah buruhnya yang murah?

Memang benar, dari sisi biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalankan usaha (cost of doing business), Indonesia sebenarnya tergolong sangat kompetitif di Asia, seperti ditunjukkan dalam survei Political and Economic Risk (PERC). Sayangnya, sangat kompetitifnya Indonesia dilihat dari biaya untuk menjalankan usaha ini tidak cukup kuat dipakai untuk membujuk investor datang atau bertahan, karena pada saat yang sama risiko politik dinilai masih cukup tinggi.

Upah buruh ternyata juga bukan satu-satunya faktor penentu masuk atau tidaknya investasi, bertahan atau tidaknya investor dan ada atau tidaknya minat investor untuk melakukan ekspansi bisnis di suatu negara.

Dari survei PERC, setidaknya ada tujuh faktor lain yang dianggap penting oleh investor. Faktor-faktor tersebut adalah:

  1. Kemudahan mendirikan usaha,
  2. Ada atau tidaknya diskriminasi terhadap investasi asing yang baru masuk,
  3. Ada atau tidaknya perlakuan sama untuk investor asing yang sudah masuk dengan pelaku usaha lokal,
  4. Transparansi dalam persetujuan dan izin investasi.
  5. Ramah-tidaknya kebijakan imigrasi,
  6. Ada atau tidaknya mekanisme bagi investor untuk menyampaikan keluhannya kepada pemerintah, serta
  7. Tingkat responsivitas (kepekaan) pemerintah dalam menanggapi keluhan-keluhan investor.

Hampir dalam semua aspek tersebut, Indonesia merupakan yang terburuk kedua, setelah Vietnam.

***

KENYATAAN bahwa perusahaan-perusahaan asing selama ini lebih banyak memfokuskan diri pada investasi di sektor padat modal ketimbang padat karya, menunjukkan begitu ruwetnya persoalan yang dihadapi investor di negara ini, sehingga upah buruh murah pun sudah tidak mampu lagi menjadi daya tarik investor.

Sebagian besar tenaga kerja di Indonesia merupakan tenaga kerja berketerampilan rendah, sehingga produktivitasnya juga rendah. Banyak investor yang mengeluhkan sulitnya mencari, menyewa, atau mempertahankan staf yang berketerampilan tinggi. Sebenarnya investor ingin melibatkan sebanyak mungkin komponen lokal, agar biaya produksi bisa ditekan.

Namun, di Indonesia ternyata ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Akibatnya, banyak perusahaan asing akhirnya terpaksa harus menggunakan staf ekspatriat. Selain itu, para investor asing juga resah dengan semakin meningkatnya kecenderungan radikalisme dan aktivisme buruh.

Ini salah satu alasan, mengapa investasi yang masuk lebih banyak di industri-industri ekstraktif, seperti minyak dan gas (migas), yang biasanya berlokasi di wilayah-wilayah yang agak terpencil. Dengan demikian, lebih mudah menghindar dari potensi-potensi kerusuhan sosial, yang biasanya lebih mudah terpicu di daerah perkotaan.

Dilihat dari upah buruh, daya saing Indonesia setara dengan Cina, yakni yang termurah dari 12 negara Asia yang disurvei PERC (yakni Cina, Hongkong, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Korsel).

Namun, dari etos kerja, Indonesia ternyata yang terburuk di Asia. Ini tercermin dari skor indeks persepsi Indonesia di mata para ekspatriat yang disurvei yang angkanya 7,50 (dari angka terbaik nol dan terburuk 10 yang dimungkinkan). Sebagai perbandingan, Cina (3,75), Hongkong (2,81), India (6,75), Jepang (1,50), Malaysia (6,00), Filipina (6,20), Singapura (3,00), Korsel (1,50), Taiwan (3,71), Thailand (6,00) dan Vietnam (5,75).

Perbedaan nyata tenaga kerja di Indonesia dengan Cina, menurut seorang guru besar sebuah universitas terkemuka di Jepang, adalah di Cina tenaga kerja dari semua level keterampilan tersedia dalam jumlah melimpah dan juga murah. Persepsi investor terhadap buruh Cina pun cukup baik. Para buruh Cina dikenal sangat rajin, tidak banyak cing-cong dan memiliki kemauan tinggi untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan dirinya.

Meskipun tingkat upah tenaga kerja untuk level keterampilan tinggi belakangan ini mulai meningkat dengan cepat di Cina, tetap saja besarnya masih relatif rendah untuk standar internasional. Di Malaysia, Filipina, dan India, tenaga kerja berketerampilan tinggi juga tidak sulit dicari. Malaysia memiliki tenaga terampil yang kualitasnya lebih baik dibandingkan kebanyakan negara berkembang Asia lainnya. Hanya sayangnya, jumlahnya terbatas sehingga terjadi kelangkaan suplai tenaga kerja yang menyebabkan upah dengan cepat juga membubung tinggi.

Di Filipina, tenaga kerja merupakan salah satu aset terbaik dan potensi besar perekonomian, karena mereka umumnya memiliki latar belakang pendidikan yang baik dan fasih berbahasa Inggris. Dengan begitu, perusahaan asing yang beroperasi di sana hampir tidak menghadapi kendala dalam hal tenaga kerja.

Di Thailand, kondisinya kurang lebih sama dengan di Indonesia. Langkanya tenaga kerja berketerampilan tinggi ikut menghambat investasi dan ekspansi produksi, meskipun dalam hal tingkat upah buruh dan risiko radikalisme buruh, Thailand sebenarnya merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Untuk Vietnam, upah buruh sangat rendah, namun kualitas umumnya juga rendah.

Jika dalam hal buruh atau tenaga kerja Indonesia masih lumayan kompetitif di mata investor, tidak demikian halnya jika dilihat dari faktor kepastian hukum. Survei PERC menunjukkan Indonesia yang paling payah dalam hal penegakan hukum, dan kondisi ini tidak berubah sejak krisis.

Payahnya posisi Indonesia ini tercermin dari skor sebesar 9,83 menurut survei yang dipublikasikan akhir Mei 2002. Sebagai perbandingan, Australia (1,08), Cina (8,33), Hongkong (2,81), India (7,00), Jepang (3,67), Malaysia (5,86), Filipina (7,75), Singapura (1,70), Korsel (5,00), Taiwan (6,33), dan Thailand (7,78).

***

Dari angket yang dilakukan Gallup bulan April lalu, hampir dua pertiga (persisnya 73 persen) pengusaha AS di Asia Tenggara merencanakan melakukan bisnis di Asia dalam dua tahun ke depan. Namun, dari jumlah tersebut, dua pertiganya memilih Cina sebagai tempat untuk ekspansi.

Survei yang dilakukan terhadap para anggota Kamar Dagang Amerika (American Chamber of Commerce/Amcham) ini juga menunjukkan hanya 16 persen yang merencanakan untuk merelokasi industrinya atau mengurangi tenaga kerja lokal mereka. Bahkan, 32 persen merencanakan akan menambah staf lokal.

Dari sini terlihat betapa masih tingginya optimisme pengusaha AS terhadap prospek ekonomi kawasan. Lebih dari 50 persen juga yakin bisnis mereka di kawasan masih akan menjadi sumber profit, dan 80 persen yakin laba mereka akan meningkat pada tahun 2003.

Masih tingginya minat ekspansi mengindikasikan secara umum prospek investasi dan ekspansi ekonomi di kawasan masih akan cerah, setidaknya untuk beberapa tahun ke depan. Para pengusaha yang disurvei itu sendiri merepresentasikan nilai investasi sekitar 60 milyar dollar di Asia Tenggara.

Hanya sayangnya, momentum bagi Indonesia untuk merebut pangsa yang cukup besar dari investasi asing yang masuk ke Asia itu tampaknya terbentur oleh kendala klasik seperti diungkapkan Kepala BKPM Theo F Toemion. Kendala tersebut yakni faktor keamanan, ketidakpastian hukum, dan risiko politik. Jadi, tidak heran jika tak ada sesuatu lagi yang menarik di mata pengusaha penanaman modal asing (PMA), karena semuanya serba sulit bagi mereka. Kondisi inilah yang membuat mereka memposisikan Indonesia sebagai pilihan yang terakhir untuk mereka masuki. Walaupun dari banyak sisi Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa, tetapi tetap saja Cina menjadi prioritas mereka. (Sri Hartati Samhadi)


Sumber: Kompas, Juli 2002
URL Artikel : http://www.unisosdem.org/ekopol_detail.php?aid=301&coid=2&caid=30


Character Building Bangsa Jepang

Dunia pendidikan kita penuh paradoks. Contoh mencolok adalah ditetapkannya program Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun tetapi biaya pendidikan ditanggung peserta didik. Bahkan, fakta lapangan memperlihatkan lembaga pendidikan sedang berlomba menjadi sekolah mahal. Setelah melakukan ulasan atas fenomena pendidikan tersebut, Bpk Supriyono dosen FIP dan Pascasarjana UM mengusulkan agar sekolah unggulan yang mahal-mahal itu dihapus (Surya, 1/5/2003).

Konsekuensi dari program Wajar adalah bebas biaya. Bila tidak, Wajar menjadi tak ada artinya. Alasannya sederhana, kewajiban harus diikuti sanksi. Nah, bagaimana mungkin memberi sanksi pelanggar Wajar bila sekadar menyekolahkan anak-anaknya saja memang tidak mampu. Jumlah penduduk miskin bertambah secara signifikan sejak krismon, sebagai contoh Jatim mencapai angka 30 persen. Tulisan ini bermaksud menguatkan ide penghapusan sekolah mahal di atas.

Pendidikan ala pasar

Andai dunia pendidikan dapat diibaratkan sebagai wajah, maka make-up wajah pendidikan kita senantiasa berubah dari waktu ke waktu bergantung periasnya yakni Mendiknas. Periode sekarang merek make-up tersebut adalah KBK atau kurikulum berbasis kompetensi. Sebagaimana make-up yang sebenarnya, make-up pendidikan bisa dan boleh senantiasa berubah tetapi wajah pendidikan selalu tetap kecuali dilakukan operasi plastik. Wajah pendidikan kita adalah pasar.

Di antara sekian praktik yang menyebabkan pendidikan menjadi mahal ada satu yang cukup unik. Setiap awal tahun ajaran baru tim pemasaran dari penerbit buku masuk ke sekolah. Hasilnya, buku terbitannya menjadi pegangan tahun itu dan seyogianya dibeli. Uniknya, setiap tahun tim penerbit buku yang datang selalu berganti. Akibatnya buku pegangan pun senantiasa berganti sehingga seorang kakak tidak bisa mewariskan buku tersebut kepada adiknya. Seorang siswa yang tidak naik kelas pun tidak dapat menggunakan buku pegangan tersebut dua kali dan terpaksa harus membeli buku pegangan baru.

Praktik yang makin menyempurnakan wajah serta citra pasar lembaga pendidikan. Pada gilirannya meneguhkan tudingan bahwa sekolah adalah instrumen kapitalisme. Tak pelak juga Indonesia dengan ideologi Pancasila yang memang masih terbuka dengan berbagai muatan atau tafsiran ini.

Kesenjangan dini

Ada kenyataan yang harus kita akui bahwa para pendidik senior kita umumnya mengenyam pendidikan barat. Akibatnya aroma Barat dari pendidikan pun sulit dihindari. Hal ini bisa dilihat dari kandungan materi pendidikan yang sangat menekankan pengasahan akal (Intelligence Quotient, IQ). Padahal, tahun 2000 lalu menteri pendidikan AS mencak-mencak lantaran pendidikan bagi anak sampai usia 15 tahun AS kalah dari Jepang dan China dalam keterpaduan aspek IQ dan EQ (Emotional Quotient). Sebagai bahan perbandingan ada baiknya menambah acuan, untuk itu kita lihat sekolah di Jepang.

Jepang tergolong sebagai negara maju tetapi mampu bertahan dengan tradisi serta adat-istiadat ketimuran yang kental unsur mistisnya. Ada hal menarik tentang pendidikan di sana, yakni muatan character building pendidikan mereka sejak sekolah dasar (shougakkou) sampai dengan SMU (kotougakkou). Seperti dapat dilihat di film-film layar kaca, siswa-siswi SD negeri Sakura pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Sekitar pk 07.15 setiap kelompok yang terdiri dari lima atau enam siswa berangkat menuju sekolah. Pukul tiga atau empat sore mereka pulang dalam kelompok-kelompok dan setiap kelompok dipimpin seorang ketua.

Berjalan kaki dan pergi-pulang berkelompok sifatnya wajib bagi para siswa SD, tanpa pandang bulu. SD di sana menerapkan sistem rayon, anak-anak bersekolah di SD terdekat di masing-masing wilayahnya. Para orangtua tidak perlu memilihkan sekolah untuk anaknya karena pemerintah daerah setempat telah menetapkannya. Mereka tinggal mendaftar ulang. Jepang juga menerapkan Wajar karena itu pemerintah akan mendatangi orangtua termasuk orang asing yang tidak menyekolahkan anaknya yang sudah usia sekolah.

Ada tiga hal yang terkandung dari kewajiban di atas. Semangat juang, kebersamaan, dan tanggung jawab yang ditanamkan dan dipraktikkan secara langsung.
Bandingkan dengan tata-cara dan kebiasaan siswa-siswi SD di negeri kita. Siswa dapat pergi dan pulang secara bebas dalam arti boleh sendiri, bersama teman, atau diantar pembantu. Mereka pun boleh berjalan kaki, naik kendaraan umum, atau naik mobil orangtuanya. Tidak ada pendidikan etos kerja dan kebersamaan.

Makna lain yang tidak kalah seriusnya dari kebebasan di atas, SD kita diam-diam menciptakan kesenjangan sejak dini. Anak orang kaya terus menerus ditempatkan dalam suasana kemewahan. Sementara anak orang miskin dibiarkan dalam kekurangannya sambil nonton penampilan temannya yang anak orang kaya.
Negara diam-diam mendukung perbedaan kelas.

Keuletan

Pendidikan sikap dan karakter ini dijalankan di sekolah Jepang dalam berbagai bentuk. Dalam olahraga, setahun sekali yakni di musim panas siswa kelas satu sampai dengan kelas enam dibagi dalam dua kelompok besar yakni merah dan putih. Mereka berkompetisi dan semua jenis olahraga yang dipertandingkan adalah olah raga tim. Lagi-lagi kebersamaan dan teamwork mereka tekankan.

Setahun sekali pula diadakan pentas seni yang melibatkan seluruh siswa. Setiap siswa mendapat, berlatih dan memainkan satu atau dua peran. Uniknya pentas seni maupun lomba olah raga ini disaksikan oleh para undangan yang terdiri dari orangtua siswa, tokoh masyarakat, kepala sekolah TK, dan SLTP serta pemerintah lokal setempat.

Pendidikan seperti mencuci piring juga diajarkan di sekolah. Di Jepang tidak dikenal yang namanya pembantu rumah tangga. Ketika libur sekolah anak-anak SD meliburkan ibu mereka dari kegiatan mencuci piring di dapur dan pekerjaan itu mereka gantikan.

Fenomena unik lainnya dapat dilihat pada siswa SLTP dan SMU di sana. Mereka dibolehkan bersepeda ke sekolah, tetapi tidak diizinkan mengendarai sepeda motor apalagi mobil pribadi. Kalaupun terlalu jauh siswa boleh pergi dengan bus kota atau kereta api. Padahal kita semua mafhum bahwa Jepang adalah produsen utama kendaraan bermotor.

Perhatikan perilaku siswa-siswi SLTP dan SMU kita, tidak sedikit yang ke sekolah dengan mobil bahkan mengemudinya sendiri. Kita pun sering mendengar keluhan para orangtua yang anak-anaknya mogok sekolah lantaran tidak dibelikan sepeda motor. Betapa manjanya anak-anak kita. Fenomena ini juga mengisyaratkan betapa kacaunya lalu lintas dan sistem untuk mendapatkan surat izin mengemudi (SIM). Anak seusia SLTP yang belum genap 17 tahun sudah punya SIM, atau belum memiliki SIM tetapi sudah dapat leluasa mengemudi di jalan umum.

Fenomena sosial dalam lingkup lebih luas dapat dipahami dari fenomena lembaga pendidikannya. Sudah bukan rahasia bahwa masyarakat Jepang adalah masyarakat workaholic, gila kerja. Mereka sangat menghargai waktu dan pekerjaan. Hal ini dapat dilihat dari jawaban spontan anak-anak bila ditanya cita-cita mereka. Menjadi juru masak, penjual bunga, penjual buku dan sejenisnya yang sederhana adalah cita-cita mereka. Cita-cita seperti ini merupakan refleksi dan hanya dapat terjadi di masyarakat yang tidak memandang mulia satu jenis pekerjaan dan hina pekerjaan lainnya. Negeri yang sempat porak poranda oleh bom atom ini pun berhasil mewujudkan impian kolektif mereka, mengalahkan dan melampaui Amerika, setidaknya dalam ekonomi.

Berbeda dari bocah Jepang yang umumnya bercita-cita sederhana, bocah Indonesia umumnya bercita-cita tinggi seperti menjadi insinyur dan dokter. Tetapi tidak adanya character building dalam pendidikan menyebabkan rendahnya kemauan serta semangat juang masyarakat maupun para petinggi kita. Daya tahan lemah dan gampang menyerah. Akibatnya, cita-cita tinggi para bocah muncul tanpa ruh dan di masa berikutnya menjadi keinginan sekadar bisa hidup. Celakanya, sekadar hidup itupun seringkali juga ditempuh via jalan pintas.

Kerapuhan mental ditambah dengan ketiadaan impian kolektif bangsa, menyebabkan masyarakat tidak mempunyai energi dan semangat hidup yang besar. Kini, rendahnya semangat hidup ini telah sampai pada kondisi yang menyedihkan. Perhatikan saja fenomena persimpangan jalan, perkantoran dan para petinggi yang keluar negeri mencari pinjaman; fenomena mentalitas pengemis.

Keruwetan sistem pendidikan dan kondisi sosial negeri ini sudah seperti benang kusut. Pembenahan harus dibenahi di semua lini. Untuk lini pendidikan perlu dilakukan bedah plastik wajah pendidikan, dan pola character building pendidikan Jepang layak untukdipertimbangkan. Semangat dan etos kerja, kebersamaan, tanggung jawab dan menghargai pekerjaan diajarkan secara konkret dan keteladanan bukan dengan kata-kata.

Sistem rayon (tingkat SD dan SLTP) sebagai kebijakan terkait akan membantu pemerataan kualitas sekolah. Sistem ini juga memungkinkan keterlibatan dan pengawasan masyarakat dalam pendidikan. Pada gilirannya tidak relevan membicarakan sekolah unggulan, sekolah plus atau pun sekolah borjuis yang diskriminatif.

Untuk mengadopsi sistem asing manapun tidaklah bisa serta merta dan seketika, sebab pendidikan memang tidak berdiri sendiri. Namun meniru pola Jepang relatif tidak memerlukan dana sehingga kemiskinan bangsa ini bukanlah kendala utama. Penulis sengaja tidak menampilkan aspek-aspek intelektualnya sebab dari sisi ini kita tidak kalah dari negeri lain manapun. Tetapi kemampuan itu tidaklah terlalu berarti tanpa dibarengi pendidikan karakter yang membangun sikap dan komitmen.

Character building yang pernah menjadi wacana di awal berdirinya republik ini mendesak diangkat kembali. Bahkan lebih dari itu, mendesak dijadikan kandungan utama pendidikan kita. Semua itu diperlukan agar bangsa ini kembali mampu berjalan tegak dengan harga diri. Selain itu, negara harus menanggung biaya Wajar. Tuntutan ini pun bukan mustahil dipenuhi oleh negara pascaamandemen UUD yang menetapkan 20 persen APBN harus dialokasikan untuk pendidikan. Kita tidak ingin Wajar sekadar jadi bentuk cuci tangan pemerintah atas kewajiban memenuhi hak pendidikan warga negaranya.


Sumber: Agus Purwanto, Pekerja pendidikan di LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) ITS yang juga alumnus Universitas Hiroshima Jepang.
http://www.surya.co.id/18062003/12a.phtml -www.its.ac.id/berita.php?nomer=838 - 20k