Tuesday, November 6, 2007

Info Training "8 ETHOS", November 2007

Mengapa Tenaga Kerja Indonesia dihargai sangat rendah di dunia? Mengapa Indonesia banyak tertinggal dibanding bangsa-bangsa Asia lainnya? Mengapa bangsa kita seolah tak berdaya di bawah tekanan bangsa lain? Bukan hanya di tingkat bangsa dan negara, di tingkat organisasional dan manajerial pun banyak keluhan dan kritikan ditujukan kepada SDM Indonesia yang secara nyata belum mampu menunjukkan keunggulan kualitasnya di era digital global ini. Apa yang harus dibenahi? Bentuk semangat (spirit) macam apa yang perlu segera dibangun dan dihayati oleh semua insan negeri ini?

Berbagai studi sosiologi dan manajemen menunjukkan bahwa keberhasilan suatu bangsa terletak pada etos kerja warganya. Sumber Daya Manusia memegang peranan kunci bagi kemajuan dan keunggulan suatu bangsa.

Bagaimana SDM Indonesia mampu melepaskan diri dari stigma negatif tersebut dan berjuang merebut keunggulan dan kejayaan kita sebagai bangsa?

Setiap perubahan tak lepas dari cara berpikir (paradigma), apa yang diyakini (keyakinan) dan semangat untuk berubah dari manusianya.

Pelatihan "8 ETHOS" yang dirancang dan dikemas khusus oleh Jansen H. Sinamo mencoba memberikan navigasi berupa cara pandang (paradigma) dan nilai-nilai keyakinan yang baru untuk membangun etos kerja bangsa Indonesia yang unggul dan terpercaya untuk menjawab tantangan global di atas tadi.

Disajikan dalam durasi 2 hari, Materi Pelatihan meliputi:
1. Apakah 8 Etos Kerja Profesional itu?
2. 8 Paradigma Kerja Profesional :
  • Etos 1: Kerja adalah Rahmat; Aku Bekerja Tulus Penuh Rasa Syukur
  • Etos 2: Kerja adalah Amanah; Aku Bekerja Benar Penuh Tanggungjawab
  • Etos 3: Kerja adalah Panggilan; Aku Tuntas Penuh Integritas
  • Etos 4: Kerja adalah Aktualisasi; Aku Keras Penuh Semangat
  • Etos 5: Kerja adalah Ibadah; Aku Bekerja Serius Penuh Kecintaan
  • Etos 6: Kerja adalah Seni; Aku Bekerja Cerdas Penuh Kreativitas
  • Etos 7: Kerja adalah Kehormatan; Aku Bekerja Tekun Penuh Keunggulan
  • Etos 8: Kerja adalah Pelayanan; Aku Bekerja Paripurna Penuh Kerendahanhati
3. Bagaimana menciptakan Budaya Kerja Unggul dengan 8 Ethos?

Pelaksanaan:

Pelatihan 8 Ethos angkatan terakhir di tahun 2007 ini akan diselenggarakan pada:

Hari/tgl : Rabu-Kamis, 28-29 November 2007,
Jam : 07.00-
16.00 WIB
Tempat :
Hotel Menara Peninsula,
Jl. S.Parman, Slipi - J
akarta Barat

Investasi: Rp 2.500.000,-/peserta
(termasuk modul, buku teks, sertifikat, coffee break & lunch).

Early bird sebelum tanggal 21 November 2007 cukup membayar Rp 2.250.000,-/peserta.

GRATIS hadiah langsung 4 buku & 1 CD Audio dari Jansen H. Sinamo untuk setiap peserta.

Bagi pendaftar 3 orang/lebih akan mendapatkan diskon langsung sebesar 20%.


F
asilitator:

Seorang maestro pelatihan. Pengalamannya sangat luas dalam membawakan seminar dan training di berbagai lembaga dan korporasi milik negara seperti Bank Indonesia, BPPT, ITB, DPRD, Aneka Tambang, Telkom, Indosat, Jiwasraya, Bank Mandiri, BNI, BRI, Jasa Marga, dan sejumlah PTPN; perusahaan swasta nasional seperti Astra Group, Kompas-Gramedia Group, Indomobil, Bank NISP, Bentoel, Bumiputra, BCA, Konimex Group, United Tractors; termasuk korporasi multinasional seperti SOGO, Caltex, Charoen Pokphand, Mandom, VICO, Bank Amro, TNT, dan American Express; termasuk berbagai LSM seperti World Vision, Bina Swadaya, dll.

Jansen H. Sinamo telah menulis 6 buah buku dan audiobook yang lahir dari pengalaman, renungan, perbandingan, dan bacaannya atas ribuan buku dan literatur lain. Dalam sekitar 20 tahun karirnya sebagai public speaker, fasilitator, dan instruktur, dia telah melatih ratusan ribu orang mulai dari tingkat pelaksana, clerk, wiraniaga, teller bank, tingkat manajer, direktur, CEO, bupati, direktur jenderal, hingga level menteri.


Pendaftaran:

Hubungi Ester S.Devi di 0816-547-3500 atau e-mail: estershd@gmail.com

Ethos Kerja Orang Indonesia, Untuk Siapa?

Ketertinggalan Indonesia saat ini membuat kita bertanya, apakah orang Indonesia tidak punya semangat kerja seperti bangsa lain? Jika punya, mengapa negara kita "bernasib" seperti sekarang ini? Studi-studi sosiologi dan manajemen dalam beberapa dekade belakangan bermuara pada satu kesimpulan yang mengaitkan antara etos kerja manusia dengan keberhasilannya.

Dikatakan bahwa keberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ditentukan oleh sikap, perilaku dan nilai-nilai yang diadopsi individu-individu manusia di dalam komunitas atau konteks sosialnya.

Melalui pengamatan terhadap karakteristik masyarakat di bangsa-bangsa yang mereka pandang unggul, para peneliti menyusun daftar tentang ciri-ciri etos kerja yang penting. Misalnya etos kerja Bushido dinilai sebagai faktor penting dibalik kesuksesan ekonomi Jepang di kancah dunia. Etos kerja Bushido ini mencuatkan tujuh prinsip, yakni:

Gi - keputusan yang benar diambil dengan sikap yang benar berdasarkan kebenaran; jika harus mati demi keputusan itu, matilah dengan gagah, sebab kematian yang demikian adalah kematian yang terhormat.

Yu
- berani dan bersikap kesatria

Jin - murah hati, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama

Re - bersikap santun, bertindak benar

Makoto
- bersikap tulus yang setulus-tulusnya, bersikap sungguh dengan sesungguh-sungguhnya dan tanpa pamrih

Melyo - menjaga kehormatan, martabat dan kemuliaan, serta

Chugo - mengabdi dan loyal.


Begitu pula keunggulan bangsa Jerman, menurut para sosiolog, terkait erat dengan etos kerja Protestan, yang mengedepankan enam prinsip :
  1. bertindak rasional,
  2. berdisiplin tinggi,
  3. bekerja keras,
  4. berorientasi pada kekayaan material,
  5. menabung dan berinvestasi, serta
  6. hemat, bersahaja dan tidak mengumbar kesenangan.

Pertanyaannya kemudian adalah seperti apa etos kerja bangsa Indonesia ini. Apakah etos kerja kita menjadi penyebab dari rapuh dan rendahnya kinerja sistem sosial, ekonomik dan kultural, yang lantas berimplikasi pada kualitas kehidupan?

Ethos Kerja Indonesia

Ataukah etos kerja yang kita miliki sekarang ini merupakan bagian dari politik republik tercinta? Dalam buku "Manusia Indonesia" karya Mochtar Lubis yang diterbitkan sekitar seperempat abad yang lalu, diungkapkan adanya karakteristik etos kerja tertentu yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Beberapa di antara ciri-ciri itu adalah: munafik; tidak bertanggung jawab; feodal; percaya pada takhyul; dan lemah wataknya. Beliau tidak sendirian. Sejumlah pemikir/budayawan lain menyatakan hal-hal serupa. Misalnya, ada yang menyebut bahwa bangsa Indonesia memiliki ‘budaya loyo,’ ‘budaya instan,’ dan banyak lagi.

Hasil pengamatan para cendekia tersebut tentu ada kebenarannya. Tetapi tentunya bukan maksud mereka untuk membuat final judgement terhadap bangsa kita. Pernyataan-pernyataan mereka perlu kita sikapi sebagai suatu teguran dan peringatan yang serius. Jika ciri-ciri etos kerja sebagaimana diungkapkan dalam “Manusia Indonesia” kita sosialisasikan, tumbuh kembangkan dan pelihara, maka berarti kita bergerak mundur beberapa abad ke belakang.

Tanpa bermaksud terlarut dalam kejayaan masa lalu, sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki prestasi yang patut dihargai dalam perjalanannya. Tegaknya candi Borobudur dan puluhan yang lainnya hanya mungkin terjadi dengan dukungan etos kerja yang bercirikan disiplin, kooperatif, loyal, terampil rasional (sampai batas tertentu), kerja keras, dan lain-lain.

Berkembang luasnya pengaruh kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Samudra Pasai, Mataram, Demak, dengan berbagai perangkat dan infrastruktur teknologis maupun sosial dalam pengelolaan kenegaraannya, juga mempersyaratkan adanya suatu etos kerja tertentu yang patut dihargai. Selain ini, pesantren-pesantren yang sampai kini masih bertahan dan berkembang, memiliki akar pertumbuhan pada beberapa abad yang lalu, yang menunjukkan bahwa tradisi belajar-mengajar telah menjadi bagian kehidupan masyarakat Tanah Air jauh sebelum bangsa Belanda mengunjungi kita.

Kita juga mengenal slogan-slogan yang, setidaknya dulu, pernah menjadi cerminan suatu etos kehidupan, seperti: Bhinneka Tunggal Ika; Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangung Karso, Tut Wuri Handayani; Menang Tan Ngasorake; Niteni, Niroake, Nambahake.

Ini mencerminkan etos kerja dalam konteks kehidupan sosial yang penting dalam membangun persatuan, leadership, dan bahkan untuk berinovasi. Masih banyak lagi slogan-slogan yang berlaku dan terkenal di berbagai daerah-daerah di Tanah Air.Sejarah bangsa Indonesia dapat menjadi salah sebuah sumber penting bagi kita untuk menggali, memahami dan membangun etos kerja bangsa kita. Hanya saja, perhatian pada sejarah tak jarang dimotivasi oleh dorongan-dorongan apologetik, atau menjadi ‘pelarian’ dari tantangan-tantangan yang kita hadapi hari ini. Jika potensi sejarah ini tidak dimanfaatkan secara optimal, ini bisa berimplikasi keterasingan bangsa akan dirinya sendiri. Lebih jauh, ini bisa membuat kita asing terhadap etos kerja bangsa kita sendiri.

Nalar

Sebagaimana disimpulkan oleh para peneliti sosiologi dan manajemen, etos kerja merupakan bagian penting dari keberhasilan manusia, baik dalam komunitas kerja yang terbatas, maupun dalam lingkungan sosial yang lebih luas. Keberhasilan ini bukan hanya dikarenakan adanya pengetahuan dan kemampuan menggunakan nalar, tetapi juga kemampuan mengarahkan pengetahuan dan aktivitas penalaran menuju pada kebaikan, baik kebaikan individu maupun kelompok. Ini yang menjadi ciri penting dalam etos Bushido.

Tetapi, kutipan berikut ini mengingatkan kita tentang aspek penting lain dari etos kerja.

“. . . [A] human being regarded as a person, that is, as the subject of a morally practical reason, is exalted above any price; for as a person (homo noumenon) he is not to be valued merely as a means to the ends of others or even to his own ends, but as as an end in himself; that is, he possesses a dignity (an absolute inner worth) by which he exacts respect for himself from all other rational beings in the world."

Immanuel Kant. The Metaphysics of Morals.

Ketika kita membicarakan etos kerja, atau prinsip-prinsip etika ataupun norma, perlu kita sadari sasaran mendasar yang menjadi tujuan pengembangan etos tersebut.

Dalam kutipan di atas, Kant, seorang Bapak filosofi modern, menekankan pentingnya menempatkan manusia dan kemanusiaan sebagai sebuah sasaran pengembangan etos kerja. Artinya, pembicaraan etos kerja dan manajemen perubahan haruslah memberi penekanan pada arti penting dari manusia itu sendiri sebagai tujuan perubahan, bukan manusia sebatas sebagai SDM atau sebagai sarana produksi.

Kedua, meskipun nalar memiliki keterbatasan, uraian Calne dalam bukunya Within Reason sama sekali tidak menyarankan bahwa kita tidak perlu menggunakan nalar untuk bisa bekerja lebih baik ataupun hidup lebih baik.

Yang penting adalah kita menyadari kembali sebuah fungsi penting dari nalar, yaitu mengarahkan dan menghasilkan kehendak yang betul-betul baik. Kehendak baik ini bukan menjadi tujuan perantara, tetapi menjadi tujuan akhir itu sendiri dari penggunaan nalar, sebagaimana dinyatakan dalam pernyataan Kant Berikut ini:

“. . . [Reason's] true function must be to produce a will which is good, not as a means to some further end, but in itself . . . "

Immanuel Kant (1724-1804). Groundwork of the Metaphysic of Morals.

Sebagai penutup, mari kita akhiri pembahasan tentang pengembangan etos kerja dalam artikel ini dengan merenungkan pesan yang terkandung dalam sebuah kutipan dari sosiolog humanis Eric Fromm berikut ini:

Immature love says: ''I love you because I need you'',
Mature love says:"I need you because I love you".

Sumber: Kusmayanto Kadiman, Menristek RI
http://www.netsains.com/index.php/page_info/pid_173

Monday, November 5, 2007

Rahasia Bisnis Orang Jepang

Apa kunci sukses bangsa Jepang, Cina dan Korea?

Ann Wang Seng, PhD seorang antropolog dan sosiolog asal Malaysia dan penulis buku seri bisnis Asia: Rahasia Bisnis Orang Jepang, Formula Bisnis Negara Cina, dan Rahasia Bisnis Orang Korea, menuturkan bahwa ketiga bangsa tersebut memiliki persamaan dalam hal etos kerja-nya. Bedanya, ”... orang Cina lebih mementingkan kekeluargaan, orang Jepang pada organisasi, orang Korea pada komunitas,'' ucapnya saat berada di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Namun mengapa bangsa Jepang lebih berhasil dan maju dibandingkan dengan 2 bangsa lainnya meskipun ketiganya sama-sama pekerja keras? Diketahui dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, Jepang mampu bangkit dari keterpurukannya akibat serangan bom atom Amerika tahun 1945, dan menyaingi perekonomian negara yang menyerangnya tersebut. Terbukti, pendapatan per kapita dan taraf hidup rakyat Jepang pada pertengahan era 1990-an, yang diwakili oleh Produk Nasional Bruto (PNB)-nya telah mencapai US$ 37,5 miliar. Ini berarti menempati posisi kedua dari puncak yang diduduki oleh Swiss dengan PNB-nya yang tertinggi di dunia (US$ 113,7 miliar). Selain itu Jepang juga tidak memiliki utang luar negeri.

Padahal jika dilihat pada kondisi yang ada, Jepang tidak memiliki sumber alam yang memadai. Alamnya sangat sulit untuk dikembangkan dan sering ditimpa bencana seperti gempa, letusan gunung berapi dan badai topan. Bahkan 85% kebutuhan energi Jepang juga masih diimpor dari negara lain seperti Indonesia. Belum lagi kekalahan Jepang dalam perang dunia kedua, yang menyebabkan kerusakan fisik dan kehancuran perekonomian yang dahsyat yang semestinya membuat mereka lebih tertinggal dibanding bangsa-bangsa lainnya.

Menurut Ann Wang Seng dalam bukunya Rahasia Bisnis Orang Jepang : Langkah Raksasa Sang Nippon Menguasai Dunia, kunci kebangkitan Jepang terletak pada spirit Bushido atau Samurai yang telah dibudayakan secara turun temurun dalam masyarakat Jepang dan diwujudkan dalam sikap:

Tepat Waktu/Disiplin tinggi

Untuk melancarkan urusan pekerjaannya, orang Jepang memegang teguh prinsip tepat waktu dengan tertib dan disiplin, khususnya dalam sektor perindustrian dan perdagangan. Kedua elemen itu menjadi dasar kemakmuran ekonomi yang dicapai Jepang sampai saat ini. Ukuran nilai dan status orang Jepang didasarkan pada disiplin kerja dan jumlah waktu yang dihabiskannya di tempat kerja.

Orang Jepang akan menghabiskan seluruh jam kerjanya untuk fokus bekerja dan bukan untuk mengobrol dengan rekan kerja atau bersantai-santai. Mereka menghabiskan banyak waktu di tempat kerja. Pada tahun 1960, rata-rata jam kerja pekerja Jepang adalah 2.450 jam/tahun. Pada tahun 1992 jumlah itu menurun menjadi 2.017 jam/tahun. Namun, jam kerja itu masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata jam kerja di negara lain, misalnya Amerika (1.957 jam/tahun), Inggris (1.911 jam/tahun), Jerman (1.870 jam/tahun), dan Prancis (1.680 jam/tahun).. Keadaan ini tentu sangat berbeda dengan budaya kerja orang Indonesia yang biasanya selalu ingin pulang lebih cepat.

Di Jepang, orang yang pulang kerja lebih cepat selalu diberi berbagai stigma negatif, dianggap sebagai pekerja yang tidak penting, malas dan tidak produktif. Bahkan istri-istri orang Jepang lebih bangga bila suami mereka ”gila kerja” bukan ”kerja gila”. Sebab hal itu juga menjadi pertanda suatu status sosial yang tinggi.

Semangat Mengabdi

Hal unik lainnya dari sistem kerja masyarakat Jepang adalah totalitas pengabdian mereka pada organisasi/perusahaan tempat mereka bekerja. Bagi mereka kerja yang dilaksanakan secara efektif dan efisien hingga cepat diselesaikan adalah lebih penting daripada menuntut tambahan uang lelah. Orang Jepang sanggup berkorban dengan bekerja lembur tanpa mengharap bayaran.Mereka bahkan rela bekerja tanpa digaji karena menganggap bahwa pekerjaan adalah sebuah kewajiban. Mereka merasa lebih dihargai jika diberikan tugas pekerjaan yang berat dan menantang. Bagi mereka, jika hasil produksi meningkat dan perusahaan mendapat keuntungan besar, secara otomatis mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dalam pikiran dan jiwa mereka, hanya ada keinginan untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin dan mencurahkan seluruh komitmen pada pekerjaan.

Semangat Kebersamaan

Bangsa Jepang sangat mementingkan semangat kebersamaan dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Itu sebabnya mereka lebih senang bekerja sebagai sebuah tim. Dalam tim kerja, tidak ada atasan dan bawahan. Kedudukan atasan dan bawahan adalah sama dan sama-sama berhak mengajukan pendapatnya masing-masing. Setiap organisasi/ perusahaan di Jepang menempatkan para pengelola dan pekerja dalam tingkatan yang sama dalam pengambilan keputusan. Meski masing-masing bukan seorang yang pandai mempertahankan pendapat pribadi, namun mereka sangat menjunjung harga diri dan tidak suka diremehkan. Perusahaan Jepang atau perusahaan yang manajemennya dikelola oleh orang Jepang, biasanya mempunyai ciri-ciri: Semua karyawannya mendapat penghasilan diatas rata-rata; Direktur maju, karyawan juga maju; respek terhadap nasib karyawannya. Sehingga sangat wajar jika disana hampir tidak pernah terjadi demonstrasi dan aksi mogok para pekerja karena setiap aspirasi mereka selalu ditampung serta dihargai oleh pihak pengelola maupun pemilik perusahaan.

Kecepatan dan fleksibilitas

Seperti pahlawan dalam cerita rakyat Jepang, si samurai buta Zatoichi, Jepang harus memastikan segala-galanya, termasuk rakyatnya, agar senantiasa bergerak cepat menghadapi perubahan disekelilingnya. Jika semuanya berhenti bergerak, maka ekonomi Jepang akan runtuh seperti Zatoichi yang luka dan mati karena gagal mempertahankan diri dari serangan musuh, karena ia tidak bergerak dan hanya dalam keadaan statis. Itu sebabnya masyarakat Jepang dikenal suka berjalan cepat, lekas tanggap dalam bertindak, serta tidak menunggu peluang datang, melainkan mencari dan menciptakan sendiri peluang tersebut.

Inovatif

Perkembangan teknologi di Jepang terjadi sangat cepat. Ini didasari oleh kehausan masyarakatnya akan akan Ilmu Pengetahuan.Minat dan kecintaan bangsa Jepang terhadap ilmu membuat mereka merendahkan diri untuk belajar dan memanfaatkan apa yang telah mereka pelajari. Di Jepang, buku-buku terbitan luar negeri akan segera ada terjemahannya dalam waktu 1-2 hari. Kebiasaan membaca dilakukan di mana-mana bahkan saat dalam kendaraan. Kegemaran bangsa Jepang akan ilmu pengetahuan juga menyebabkan mereka menghabiskan banyak waktu dan uang untuk penelitian. Perusahaan-perusahaan di Jepang rela menghabiskan sekitar 45% dari anggaran belanjanya untuk membiayai penelitian dan pengembangan dalam rangka meningkatkan inovasi dan mutu produk. Mereka sadar bahwa mereka harus inovatif agar produk mereka mampu bersaing di dunia Internasional. Pekerja Jepang dibayar dari hasil prestasi dan inovasi mereka saat bekerja dan bukan dari kedudukan.

Jepang dikenal suka meniru produk buatan bangsa Barat. Namun, meskipun pintar meniru, mereka memiliki daya inovasi yang tinggi. Jika pihak Barat memakai proses logika, rasional dan kajian empiris untuk menghasilkan sebuah inovasi, maka bangsa Jepang melibatkan aspek emosi dan intuisi untuk menghasilkan inovasi yang sesuai dengan selera pasar.

Bangsa Jepang menggunakan ilmu yang diperoleh untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan produk Barat, membuat produk dengan dasar sama tetapi dengan penyesuaian pada segi kegunaan dan budaya sendiri demi memenuhi kepentingan pasar dan konsumen. Produk Jepang terkenal lebih ringan, mudah digunakan, hemat, dan lebih murah dibandingkan produk bangsa Barat yang ditirunya. Tak heran beberapa produknya menduduki posisi pertama dan menjadi pilihan konsumen karena lebih ekonomis, bermutu, mudah digunakan dan memiliki berbagai fungsi, contohnya produk dari Matsushita yang merupakan contoh terbaik perusahaan yang berhasil memecahkan dominasi dan monopoli perusahaan Barat. Begitu juga walkman produk Sony yang menimbulkan fenomena luar biasa dikalangan remaja pada era 1980-an. Produk itu juga mencetuskan revolusi baru dalam perkembangan elektronik dan audio visual.

Menghargai Budaya dan Tradisi Bangsa Sendiri.

Meski sudah menjadi negara industri dan mempunyai teknologi tinggi, bangsa Jepang tetap mempertahankan budaya tradisionalnya. Semua ini dilandaskan pada sikap patriotik masyarakat Jepang yang adalah salah satu faktor yang membantu keberhasilan perekonomian negaranya. Bangsa Jepang bangga dengan produk buatan negeri sendiri. Mereka juga menjadi pengguna utama produk lokal dan pada saat yang sama juga mencoba mempromosikan produk made in Japan ke seluruh dunia dari makanan, teknologi sampai tradisi dan budaya. Di mana saja mereka berada bangsa Jepang selalu mempertahankan identitas dan jatidiri mereka, termasuk keengganan mereka dalam menggunakan bahasa Inggris.

Suka berhemat dan menabung

Meskipun Pendapatan perkapita Jepang lebih tinggi dari rata-rata pendapatan perkapita bangsa Barat, tetapi gaji pokok mereka adalah yang paling minimum dibandingkan gaji pokok bangsa Barat. Dalam hidup keseharian, mereka lebih suka memakai kendaraan angkutan umum daripada kendaraan pribadi. Mereka memiliki kebiasaan memanfaatkan dan mengolah kembali barang-barang bekas yang sudah tak terpakai menjadi barang yang berguna dan memiliki nilai seni yang tinggi. Sebagaimana mereka mengimpor bahan mentah dari negara lain kemudian mengolahnya untuk kebutuhan mereka sendiri dan untuk di ekspor kembali.

Sumber: Dari Berbagai Sumber

Friday, November 2, 2007

Etos Jepang versi Mariono

Pemerintah Jepang memutuskan untuk memberi bantuan hibah Grass-Root (yang berskala kecil dan lebih memasyarakat) untuk pembangunan gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Desa Pare, Jawa Timur. Pada tanggal 27 September 2004, berlangsung upacara penandatanganan nota perjanjiannya oleh Konsul-Jenderal Jepang di Surabaya, Bapak Minoru Shirota, dengan Bapak Mariono Mertodhihardjo sebagai wakil dari pihak yang menangani renovasi SMP tersebut.

SMP di Desa Pare ini memiliki sejarah yang amat panjang sejak zaman penjajahan Belanda. Kondisi bangunan sekolah tersebut sangat menyedihkan bagi para siswa untuk belajar: ada ruang kelas yang tidak ada langit-langitnya lagi sehingga genting langsung terlihat, dan juga ada ruang yang tiang penyangganya patah.

Gedung sekolah yang direnovasi dan menjadi baru itu selesai pembangunannya pada awal tahun 2005. Berkat adanya bantuan, gedung ini dapat dibangun bertingkat dan mempunyai 6 ruangan, dengan keadaan demikian para siswa dapat belajar dalam kondisi yang nyaman dan tenang.

Bapak Mariono, yang mewakili SMP selaku penerima bantuan hibah ini, ternyata telah membina hubungan yang sangat panjang dan mendalam dengan Jepang. Bapak Mariono, kini berusia 84 tahun, pertama-tama berangkat ke Jepang pada tahun 1936 saat belum mulai Perang Dunia II, dan menetap di Jepang selama masa Perang Dunia II. Seusai PD II pula, beliau berkecimpung dalam berbagai kegiatan untuk menjembatani Jepang dengan Indonesia. Sampai saat ini, Bapak Mariono, sebagai anggota Dewan Penyantun Universitas Darma Persada dan melalui kegiatan-kegiatan lainnya, masih tetap aktif memberikan kontribusi yang amat besar bagi persahabatan Jepang dan Indonsia. Dapat dikatakan bahwa Bapak Mariono adalah generasi pertama yang membangun persahabatan antara Jepang dan Indonesia yang kita nikmati sekarang. Nah, Redaksi AJ menanyakan kesan-kesan beliau tentang Jepang masa lalu.

AJ : Mengapa Bapak memilih untuk berangkat ke Jepang?

Bpk. Mariono (M) : Jawaban Pada suatu hari, ayah saya bertanya pada saya, Celenganmu ana pira? (Ada berapa di celenganmu?). Memang pada saat itu saya punya kira-kira 100 Guilder. Demikian saya jawab, lantas ayah saya bertanya lagi, Bagaimana kalau saya kirim kamu ke Jepang?. Saya bingung dan tidak memahami maksud beliau. Ternyata, salah seorang sahabat ayah saya adalah Bapak Soekardjo yang menjadi salah seorang dari beberapa orang Indonesia asli yang duduk di Parlemen Hindia-Belanda.

Bapak Soekardjo itu atas perintah pemerintahan Hindia-Belanda telah melakukan penelitian di Jepang dan punya sebuah rumah di Jepang. Akhirnya, saya diberangkatkan atas kesepakatan ayah saya dengan Bapak Soekardjo Wiryopranoto.

AJ : Bagaimana keadaan di Jepang pada saat itu?

M : Ketika saya mulai tinggal di Jepang pada tahun 1936, Jepang telah terarah pada militerisasi dari suasana liberal. Semua orang termasuk saya sendiri dituntut untuk menjadi berdisiplin. Di asrama saya, para siswa dibagi dalam kelompok, lalu diberi toban (giliran tugas),seperti: Bagian Pemeras Susu, Bagian Pengedar Koran, Bagian Ternak Babi, Ayam, Kelinci, Bagian Pemeliharaan Kuda dan lain-lain. Toban termasuk bagian sekretariat kepala sekolah. Tidak ada seorang pun yang diistimewakan. Semua siswa mengerjakan apa yang diperintahkan. Ini yang namanya Rosaku-kyoiku (pendidikan bekerja), dan dari situ kita belajar disiplin dan rasa tanggung jawab. Untuk masak pun, kami yang mencari bahan bakarnya dengan menebang pohon-pohon pinus dan membantu juru masak di asrama. Di samping itu, ada juga bimbingan militer setiap hari 2 jam, lalu baru belajar. Beginilah kehidupan saya ketika itu. Dalam lingkungan begitu, saya belajar berbagai aspek sosial-budaya Jepang.

AJ : Apa yang paling mengejutkan di Jepang?

M : Saya terkejut terutama ketika masuk ofuro (tempat pemandian umum; red.) di Jepang, di mana pada saat mandi, orang banyak telanjang mandi bersama-sama. Pertama, saya agak kaku, tetapi lama-lama terbiasa dengan mandi bersama itu. Saya dapat menikmati air panas di onsen (pemandian air panas; red) yang dikelola dengan baik dan tertib, menarik bagi para pengunjung karena unsur-unsur medis.

AJ : Khususnya pelajaran apa yang didapati di Jepang?

M : Ketika saya masih di Indonesia, saya selalu diingatkan sebuah ungkapan dalam bahasa Belanda, yaitu "met den hoed in de hand, komt men door het ganse land" yang artinya, selalu dengan memegang topi dan menempatkannya di dada sendiri menandakan sikap yang baik dan sopan. Di Jepang pun begini (Bapak Mariono duduk tegak; Red.), selalu ditegur "Harus taati tata krama". Kedua istilah dalam bahasa yang berbeda ini sama artinya, dan mempunyai makna universal, yaitu jika kita bersikap sopan santun, kita akan diterima oleh siapa pun dan di mana pun. Sampai saat ini, saya masih tetap memegang pelajaran tersebut.

AJ : Ada lagi yang paling berkesan dalam ingatan Bapak ?

M : Latihan Kendo pada musim dingin, yang dikenal dengan istilah kangeiko. Latihan mulai pukul 4 pagi. Ternyata air yang ditampung di baskom itu beku menjadi es. Kami memecah es dan menggosok-gosokkan badan dengan handuk setelah disirami air es itu, sehingga airnya menguap karena panas badan. Setelah itu baru berlatih kendo di dojo.
Selain itu, kami sering mendatangi kampung-kampung yang jauh untuk memperoleh makanan berupa ubi-ubian, sayuran, beras dan lain-lain sambil menarik troli, karena pada saat perang, sulit sekali mendapatkan makanan di kota. Orang Jepang pun melakukan hal yang sama karena seluruh bangsa Jepang pada saat itu mengalami kemiskinan. Kami, mahasiswa asing juga diperlakukan sama, tidak diistimewakan, mengalami nasib yang sama dengan bangsa Jepang.

Apa yang mengesankan pada masa itu adalah bagaimana orang Jepang memelihara barang-barang dengan baik, karena Jepang berada dalam kondisi miskin. Soal makanan, mereka membagi makanan bersama-sama dengan memotongnya kecil-kecil. Keadaan Jepang pada saat itu sama sekali berbeda dengan citra Jepang yang ditampilkan oleh kalangan muda zaman sekarang.

AJ : Apa kesamaannya antara Jepang sekarang dan Jepang ketika Bapak Mariono berada di sana?

M : Jepang adalah negara yang selalu mengamati perkembangan zaman dan berusaha supaya tidak ketinggalan. Jepang memiliki sudut pandang global dan juga kemampuan untuk mengikuti arus perkembangan zaman. Jepang saat ini telah memiliki ilmu teknologi yang jauh lebih berkembang dibandingkan masa lalu. Hal-hal seperti inilah yang patut kita tiru dan terapkan di Indonesia.

AJ : Apakah ada pesan kepada kaum muda Indonesia?

M : Kepada setiap mahasiswa yang berangkat ke Jepang, saya selalu mengingatkan seperti begini; manfaatkanlah waktumu dari pagi sampai malam untuk belajar tentang Jepang, janganlah bersedih hati meski ada pengalaman pahit, hadapilah dengan tulus dan ikhlas kesulitan-kesulitan itu untuk menjalani hidup, karena untuk itulah kamu diberi kesempatan untuk belajar di Jepang.

Rela mengemban tugas kehidupan,
betapapun tugas itu tidak menyenangkan, pahit, sulit dan kurang bermakna.
Jadilah orang yang paling dulu melakukannya, dan lakukan dengan senyum.
(DR. Kuniyoshi Obara)

Sayang sekali kami tidak dapat mengemukakan semua pengalaman Bapak Mariono yang sangat menarik. Dari pembincangan dengan Bapak Mariono yang mempraktekkan tradisi kebajikan Jepang yang luhur, kami orang Jepang pun dapat belajar tentang banyak hal. Semoga para pembaca memperoleh pengertian tentang Jepang masa lampau yang sedikit berbeda dengan Jepang sekarang.

Sumber: http://www.id.emb-japan.go.jp/aj309_02.html

Sopan santun bangsa Jepang

Bangsa Jepang adalah bangsa yang sangat sopan dan perasa sehingga etika adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Walaupun mereka tidak mengharapkan orang-orang luar negeri untuk mengikuti kebiasaan mereka seratus persen, tetapi usaha untuk mengikuti tata-krama Jepang akan sangat dihargai.

Dengan keramahan dan sopan santun yang dimiliki oleh orang Indonesia, serta panduan dibawah ini diharapkan tidak terjadi penyimpangan yang terlampau jauh.

MEMBUNGKUK :

Meskipun mengucapkan salam sambil membungkuk adalah hal yang amat sering kita temui diantara orang-orang Jepang, tapi bagi orang luar negeri, jabatan tangan waktu berkenalan juga sering digunakan, diikuti dengan anggukan yang sopan. Sikap semakin membungkuk menunjukkan derajat hormat seseorang.

KARTU NAMA :

Berkenalan dengan orang Jepang sering dimulai dengan saling bertukar kartu nama, terutama bagi bisnismen. Dalam kartu nama biasanya tercantum nama, posisi dan alamat. Waktu menerima kartu nama pada pertemuan formil, pelajarilah secara seksama kartu nama yang diterima dan letakkanlah secara hati-hati diatas meja. Jangan sekali-sekali memberikan coretan pada kartu nama orang lain apa lagi memasukkannya ke kantong celana belakang. Ini adalah tindakan yang sangat merendahkan.

HADIAH :

Dalam kehidupan sosial bangsa Jepang, memberi dan menerima hadiah adalah bagian yang penting. Hadiah biasanya tidak langsung dibuka dihadapan pemberi hadiah. Kesempatan-kesempatan dimana kita harus memberikan hadiah adalah :

  1. Pada akhir tahun yang disebut "Oseibo" dan Bulan Juli yang disebut "Ochugen" pada saat festival Bon. (Hadiah diberikan kepada orang-orang yang telah banyak membantu atau yang kita hormati.)

  2. Sewaktu berkunjung ke rumah seseorang.

  3. Membalas hadiah yang sudah kita terima sebelumnya. Hadiah bisa berupa: Makanan hasil utama dari daerah tertentu, atau minuman keras dengan kwalitas baik dan mahal.

CARA DUDUK :

Dalam ruangan tatami biasanya tidak terdapat kursi atau bangku. Tata-krama Jepang mengharuskan pria/wanita duduk dengan kaki dilipat dalam suasana formil. Setelah beberapa saat, bila kaki kita sudah terasa kesemutan, wanita dapat duduk menyamping dan pria dapat duduk bersila. Meluruskan kedua kaki adalah tindakan informil.

MASKER :

Gunakanlah masker waktu terserang influensa, supaya tidak menularkan penyakit itu kepada orang lain. Sebab itu di jalan-jalan akan sering kita temukan orang-orang Jepang yang bermasker.

APARTEMENT :

Jangan membayangkan apartemen mewah seperti yang banyak terdapat di Jakarta dengan kolam renang, pusat kebugaran atau lapangan tenis di apaato Jepang. Apaato di Jepang biasanya terbuat dari kayu. Kondisi yang lebih baik dari apaato disebut mansion dengan bangunan yang lebih kokoh terbuat dari tembok. Tapi disinipun tetap tanpa kolam renang atau fasilitas mewah lainnya.

BERKUNJUNG :

Bila tuan rumah hanya mengundang satu orang saja, maka sebaiknya tidak mengajak teman waktu berkunjung. Bawalah sekedar oleh-oleh, ketuklah pintu tidak lebih dari 2 X, kalau tidak terdengar ulangi sekali lagi. Karena ketukan yang bertubi-tubi sangatlah mengganggu. Sebelum masuk rumah, biasanya tamu akan ditawari sandal. Gunakan dengan kaki kita yang berkaus kaki atau stoking. Gantilah sandal dengan sandal khusus yang digunakan di toilet bila kita ke toilet. Tinggalkan sepatu yang kita pakai dalam keadaan terjejer rapi, dan untuk pelayanan kepada tamu biasanya nyonya rumah akan merapikan dan letak sepatu kita menghadap ke luar rumah agar kita dapat segera menggunakannya kembali saat meninggalkan rumah.

TOILET :

Toilet di Jepang biasanya tidak menjadi satu dengan kamar mandi. Ada dua jenis toilet di Jepang yaitu jenis duduk dan jenis jongkok. Apapun jenisnya tidak tersedia gayung ataupun ember untuk menyiram di dalam toilet. Gunakanlah kertas toilet yang tersedia untuk membersihkan diri, sehingga tidak membasahi toilet yang biasanya selalu dalam keadaan kering. Yang agak menakutkan bagi orang asing adalah toilet yang berteknologi tinggi seperti dalam gambar.

Sumber: http://www.gakushudo.com/edisi_2/sept-etika.htm

Belajar dari Jepang

Jepang nampaknya bisa dijadikan contoh tentang bagaimana upaya penyerapan pola pikir dan cara hidup bangsa lain bisa menjadi titik tolak perubahan bangsa.

Dimulai dengan Restorasi Meiji (1867 – 1912) yang sangat terkenal, Jepang akhirnya berubah pesat menjadi salah satu kekuatan dunia. Sebelum itu, Jepang adalah negara tertutup yang membatasi hubungannya dengan bangsa lain. Amerika Serikat bahkan harus mengirimkan delegasi sebanyak 2 kali untuk meminta Jepang membuka hubungan dengan negara tersebut.

Bangsa Jepang menjadikan dirinya sebagai penyerap pola pikir dan cara hidup bangsa Barat. Bahkan karena proses semacam itu ada yang menyebut Jepang sebagai murid bangsa Barat. Namun terbukti langkah itu mampu membawa Jepang menjadi negara dengan kekuatan militer dan ekonomi yang patut diperhitungkan. Jepang yang sebelumnya tabu dalam soal politik dalam negeri, kemudian juga mengijinkan berdirinya Seiyukai Party (Partai Liberal) dan Minseito Party (Partai Progresif)

Untuk membangun bangsa menuju ke arah yang lebih baik, rakyat Jepang percaya bahwa mereka membutuhkan generasi yang lebih pandai. Karena itulah, pendidikan merupakan pilar utama yang harus ditegakkan sebelum melaju ke bidang-bidang yang lain. Jepang pun pada masa itu kemudian menyusun gerakan Bummeikaika, atau gerakan memperadabkan bangsa Jepang. Gerakan tersebut dilaksanakan dengan pembaharuan pendidikan, terutama mendorong bangsa Jepang untuk meninggalkan feodalisme dan mengedepankan logika. Pembaharuan di bidang pendidikan tersebut dijalankan secara bersamaan dengan upaya melestarikan nilai-nilai tradisional, terutama nilai keagamaan. Terbukti kemudian, Jepang menjadi bangsa yang bergerak jauh ke depan tetapi tetap menginjak budayanya sendiri.

Langkah Jepang dengan menjadikan dirinya sebagai murid bangsa lain adalah langkah yang tepat. Bagaimanapun, selalu diperlukan model panutan bagi siapapun yang akan menuju ke arah tertentu. Jepang telah memilih dengan tepat apa yang mereka anut dan apa yang mereka ambil untuk kemajuan bangsanya. Tidak mengherankan jika kurang dari 100 tahun sejak Restorasi Meiji dimulai, Jepang berubah dari rumput pegunungan yang tenang tak dikenal menjadi pemimpin besar di kawasan Asia Tenggara.

Bangsa Indonesia pun memerlukan model anutan jika ingin melakukan perubahan. Model anutan yang dimaksud kini jauh lebih banyak dan lebih beragam. Sisi positif bangsa manapun dapat diambil dan diaplikasikan dengan tetap menyaringnya agar budaya dan kearifan lokal Indonesia tidak terdesak.

Bertahun-tahun Indonesia mencoba mentransfer teknologi otomotif di Jepang dan perlahan-lahan kini menuai hasil. Namun pada akhirnya bangsa Indonesia lebih cenderung menjadi pasar produk otomotif Jepang saja, dari pada mencoba mandiri memproduksi produk otomotif. Transfer teknologi memang dilakukan, tetapi hal itu tidak dilakukan bersama dengan transfer kesadaran untuk membaca, tekad merubah nasib menjadi lebih baik, rajin bekerja, kegigihan dan semangat yang tinggi yang dimiliki oleh masyarakat Jepang.

Disinilah letak penting mengapa transfer pola pikir dan cara hidup itu menjadi penting. Untuk menjadi bangsa yang maju dan besar, Indonesia tidak hanya membutuhkan penguasaan teknologi masa depan. Indonesia juga membutuhkan masyarakat dengan pola pikir dan cara hidup seperti masyarakat di negara maju. Bahkan, pola pikir dan cara hidup itulah kunci membuka masa depan Indonesia seiring dengan penguasaan teknologi.

Apa yang bisa ditransfer dari masyarakat luar negeri ke masyarakat Indonesia? Jawabannya sederhana, yaitu segala sesuatu yang berpotensi membawa masyarakat Indonesia menuju kehidupan yang lebih maju dan lebih baik.

Mahasiswa Indonesia di Jepang bisa mensosialisasikan budaya membaca di masyarakat. Mereka wajib mencari tahu bagaimana sejarahnya hingga masyarakat Jepang tumbuh menjadi penggila buku. Jangan pula dilupakan untuk mengamati, bagaimana orang tua di Jepang mendidik anaknya gemar membaca, fasilitas dan kemudahan macam apa saja yang diberikan pemerintah untuk hal ini, dan bagaimana masyarakat mendukung budaya membaca agar berjalan dengan baik dan berkesinambungan.

Tidak ada salahnya memang, apabila setelah pulang, mahasiswa Indonesia di Jepang bercerita tentang kereta api yang super cepat, penerapan teknologi maju di segala bidang atau robot yang mulai dimanfaatkan dalam berbagai keperluan. Namun, mereka juga memiliki kewajiban untuk memaparkan sifat dan sikap orang seperti giat bekerja, gigih, hidup bersih dan teratur, mengutamakan pendidikan, terbuka terhadap hal-hal baru, inovatif dengan tetap melestarikan budaya warisan leluhurnya.

Masyarakat Indonesia juga perlu tahu bagaimana anak-anak Jepang di sekolah, apa yang mereka lakukan, kebiasaan membaca mereka, bagaimana sikap guru terhadap murid atau fasilitas semacam apa saja yang seharusnya ada di sekolah. Tidak ketinggalan adalah bagaimana kebijakan yang diterapkan negara dalam bidang pendidikan.

Begitu pula mahasiswa Indonesia yang sedang berada di Singapura. Mereka memiliki kesempatan untuk belajar lebih jauh tentang budaya bersih, tertib dan teratur yang diterapkan di negara tersebut. Mahasiswa Indonesia di Korea Selatan mungkin saja mengamati proses pengorganisasian buruh sehingga menjadi kekuatan kaum pekerja yang tangguh. Sedangkan mereka yang belajar di Amerika Serikat, bisa menjadi agen perubahan untuk kehidupan berpolitik yang lebih transparan dengan masyarakat yang lebih berdaya.

Intinya, mahasiswa Indonesia di luar negeri harus merubah paradigmanya tentang apa yang harus dibawa pulang. Jika di masa lalu dan kini, transfer yang dilakukan lebih pada hasilnya maka di masa datang transfer harus dilakukan lebih pada prosesnya.

Contoh nyata dari hal itu adalah cerita mengenai robot di Jepang. Selama ini, masyarakat Indonesia hanya tahu bahwa robot telah menjadi produk yang tidak asing di masyarakat Jepang. Produk robot telah begitu canggih sehingga tidak lama lagi akan mampu menjalankan beberapa pekerjaan yang biasa dilakukan manusia. Hasilnya, masyarakat Indonesia terkagum-kagum dan merasa semakin tidak mampu mengejar ketertinggalannya atas masyarakat Jepang.

Ke depan, cerita semacam itu harus lebih ditekankan pada prosesnya. Bagaimana sehingga Jepang mampu menguasai teknologi robot yang begitu canggih. Mahasiswa Indonesia di luar negeri harus mampu memaparkan latar belakang kenyataan itu. Misalnya bagaimana dukungan dunia usaha terhadap penelitian mahasiswa. Bagaimana peran pemerintah dan bagaimana penyelenggaraan kompetisi robot tahunan yang kian menantang. Lebih jauh lagi adalah bagaimana Jepang mengenal robot dan bagaimana mereka mengembangkan itu dari titik nol hingga pencapaian saat ini.

Proses semacam itu harus diterapkan dalam semua sisi alih informasi. Tidak hanya bercerita tentang bagaimana bersihnya kereta api di Jepang, tetapi lebih kepada bagaimana masyarakat, perusahaan kereta api dan pemerintah Jepang memperjuangkan semua itu. Tidak hanya bercerita tentang tingginya penguasaan teknologi di kalangan siswa SD di Jepang, tetapi tak ketinggalan pula cerita tentang sikap orang tua, guru, anggaran pemerintah di bidang pendidikan, peran dunia usaha dan peran televisi sebagai media hiburan dan pendidikan.

Fungsi sebagai agen perubahan tersebut dapat dijalankan oleh mahasiswa Indonesia dengan berbagai cara. Misalnya menulisnya di media massa, melaksanakannya di lingkungan terkecil dan menyampaikannya secara langsung ke masyarakat melalui berbagai forum baik itu besar maupun kecil. Namun yang terbaik dari semua proses itu tentu saja adalah dengan menerapkannya dalam lingkungan terkecil agar menjadi contoh nyata bagi masyarakat Indonesia.

Perubahan memang tidak akan berjalan dengan cepat. Mungkin akan dibutuhkan waktu yang lama, bahkan sangat lama untuk bisa menciptakan masyarakat Indonesia yang lebih baik. Justru karena itulah, proses perubahan itu harus dilakukan secepatnya. Dengan demikian, generasi masyarakat Indonesia setelah ini berkesempatan menjadi generasi yang lebih baik dengan kehidupan sosial yang lebih baik karena memiliki pola pikir dan cara hidup yang lebih baik pula.

Kita tunggu perubahan peran itu dilakukan.

Sumber: Nurhadi Sucahyo: Alih Pola Pikir dan Cara Hidup Menuju Indonesia Yang Lebih Inovatif

Etos Kerja bangsa Finlandia

Finlandia, salah satu negara di kawasan Skandinavia, selalu menjadi contoh menarik dalam hal penegakan hukum. Angka kriminal hampir nol, begitu pula dengan tindak pidana korupsi.

Negara-negara yang hendak menekan angka korupsi suka datang ke negara yang dekat kutub ini untuk studi perbandingan. Para pendatang itu berusaha mengetahui kiat antikorupsi yang dikembangkan Finlandia. Akan tetapi, dalam kenyataannya, sangat sedikit yang mampu seperti Finlandia karena yang diambil dari negara ini adalah undang-undang dan kiatnya, bukan spirit hidup bersih dan kulturnya.

Finlandia, negara seluas 338.145 kilometer persegi (hampir seluas Jerman), berpenduduk 5,2 juta jiwa. Produk utamanya adalah hasil hutan, kerajinan, dan beberapa jenis industri presisi, perangkat otomotif, dan telepon seluler.

Sebagai negara kesejahteraan (welfare state), Finlandia dapat disebut sebagai negeri ”aneh”. Perdagangan berlangsung dalam ritme lamban. Jalan-jalan di kota, sebutlah misalnya di Helsinki (berpenduduk 520.000 jiwa), lengang. Hari Sabtu dan Minggu libur kerja. Pusat perbelanjaan buka antara jam 10.00-11.00 dan tutup antara pukul 19.00 sampai 21.00.

Pada hari Sabtu dan Minggu, suasana kota terasa sangat sepi. Di beberapa bagian kota bahkan seperti kuburan. Hanya beberapa trem yang lalu-lalang mengelilingi kota, tanpa penumpang. Bandara Internasional Helsinki juga sepi. Pukul 21.00 sebagian sudut bandara sudah senyap dan gelap. Sejumlah toko bahkan sudah tutup sejak pukul 19.00. Di pusat kota Helsinki terdapat beberapa kafe dan kelab malam yang baru dibuka sepuluh tahun terakhir. Sebelumnya, Helsinki termasuk ”kuper” dalam hal fasilitas hiburan.

Namun, yang kemudian membuat banyak negara lain terkagum-kagum, di balik sepinya suasana, rileksnya penduduk negara itu bekerja, dan di balik tidak variatifnya sumber daya alam, pendapatan per kapita Finlandia mencapai 28.500 dollar AS, atau salah satu yang terbaik di dunia.

Apa yang menyebabkan negara ini kaya dan bersih? ”Kami tidak suka hidup berlebihan,” kata Hans Markele, usahawan di Helsinki.

Menurut Hans, warga Finlandia terbiasa tidak banyak kebutuhan. Terbiasa dalam semangat hidup sederhana. Punya satu mobil dan dua sepeda, ya sudah cukup. Tidak perlu sampai memiliki 10 mobil sebab yang dipakai cuma satu. Satu mobil pun kerap terasa berlebihan sebab transportasi umum di Helsinki cukup baik. Warga Helsinki terbiasa dalam kultur hidup tidak berlebihan. Sebagian di antara penduduk Finlandia dikenal religius. Rumah-rumah ibadah di sana tetap penuh meski salju turun amat lebat dan suhu mencapai minus 30 derajat Celsius.

Spirit hidup tidak berlebihan, tidak suka banyak kebutuhan, dan tidak menyukai barang bukan miliknya, inilah yang memberi makna pada negara Finlandia. Negeri itu mendekati bersih dari tindak kejahatan. Korupsi nyaris nihil.

Pelajaran yang bisa dipetik dari kasus Finlandia adalah rakyat yang hidup bersih, korupsi hampir nol, ada supremasi hukum, menjadi faktor amat penting bagi pertumbuhan ekonomi. Ekonomi tumbuh dengan amat mulus. Semua proses produksi berjalan efisien. Finlandia terkesan tidak perlu mengeluarkan banyak keringat, tetapi negaranya kaya-raya. Rakyat hidup dalam kecukupan.

Apa yang terjadi di Finlandia sejalan dengan apa yang kerap disampaikan oleh tokoh besar hukum ekonomi Indonesia, Prof Dr Charles Himawan (alm).

Teori Himawan, seperti yang kerap ia sampaikan dalam bukunya, Hukum sebagai Panglima, ialah perekonomian baru bisa bagus dan pertumbuhan ekonomi akan mencapai persentase tinggi apabila ada supremasi hukum. Supremasi hukum bisa muncul apabila semua aparat penegak hukum, terutama hakim, menjalankan fungsinya sebaik-baiknya. Hakim menunaikan tugasnya berdasarkan kaidah hukum, kearifan, dan nurani seorang hakim.

Himawan memberi contoh Singapura dan Amerika Serikat. Dua negara itu meraih kegemilangan ekonomi setelah secara konsisten melakukan penegakan hukum. Negara-negara maju Eropa dan Jepang juga meraih prestasi yang sama karena memberi perhatian besar pada aspek hukum.

Supremasi hukum dipastikan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi karena dapat membuang semua kolusi dan nepotisme. Supremasi hukum tidak membolehkan ada praktik penyuapan, uang semir, dan sebagainya. Ini membuat semua kegiatan ekonomi berjalan mulus. Tidak ada yang menjadikan tugasnya untuk tujuan menguntungkan diri sendiri dan atau orang lain.

Tegaknya hukum akan membuat semua perselisihan diselesaikan menurut aturan yang berlaku. Tidak ada intervensi atau upaya suap dari mana pun. Jika semua perselisihan ekonomi dapat diselesaikan secara baik oleh aparat hukum, maka hukum berwibawa. Semua bisnis dapat berjalan tanpa hambatan. Dan kalau semua bisnis dijalankan dengan amat baik, ekonomi pasti berjalan dalam kecepatan amat tinggi.

Beda pendekatan

Raksasa ekonomi dunia, Republik Rakyat China, termasuk di antara negara maju yang mati-matian melawan tindak kriminal dan korupsi. China-lah satu-satunya negara di dunia yang paling royal menjatuhkan hukuman mati kepada para koruptor. China tidak main tebang pilih seperti Indonesia. Siapa pun yang terbukti bersalah dijatuhi vonis mati.

Semasa Zhu Rongji menjadi Perdana Menteri China, sikap keras terhadap koruptor bahkan lebih hebat. Ia menyatakan, ”Sediakan 1.000 peti mati untuk koruptor kelas kakap. Pakai 999 peti mati, sisanya satu untuk saya. Kalau kelak saya terbukti korup, masukkan saya ke peti itu.”

Zhu serius dengan pernyataannya itu. China menjadi negara yang sangat bengis bagi pencuri uang rakyat. China tidak peduli dengan kritik para pejuang hak asasi manusia bahwa hukuman mati sudah tidak zamannya lagi dan bahkan sangat melanggar peradaban. Akan tetapi, apakah korupsi di sana berhenti? Tidak.

Korupsi tetap subur, dan bersamaan dengan itu aparat hukum tetap dengan pekerjaannya, menjatuhkan hukuman mati terhadap siapa saja, termasuk pejabat teras, yang korupsi dalam jumlah besar. China selalu berpendapat bahwa sikap tegas tersebut pada saatnya akan menjerakan.

Akan tetapi, kalau korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di China masih berlangsung, mengapa perekonomian China dapat melesat demikian cepat? Ini menarik dikaji, tetapi yang jelas, dengan hukum yang belum sepenuhnya mulus saja ekonomi bisa melesat seperti itu, bagaimana kalau penegakan hukum di China sudah sama dengan di Amerika Serikat, misalnya. Ekonomi China bisa terbang.

China, seperti diketahui, bisa sukses di bidang ekonomi karena mempunyai fondasi yang amat kokoh. Kendati sempat hancur pada Revolusi Kebudayaan (1966-1976), China tetap mempunyai sumber daya manusia yang amat kuat. Rakyat China mempunyai kultur bisnis yang sangat mengakar sejak ribuan tahun lalu. Pemerintah China hanya butuh ”menyetel” tubuh rakyatnya, dan semua bakat rakyat langsung bangkit. Rakyat China pun mempunyai kultur dan etos kerja yang amat kuat.

Dunia kemudian tercengang-cengang menyaksikan kebangkitan ekonomi China dalam rentang waktu yang amat cepat. Karena bisa dikatakan mulai dari titik nol pada tahun 1978. Kurang dari sepuluh tahun negara ini sudah menjadi raksasa ekonomi dunia, hanya di bawah Amerika Serikat. Jangan lupa, negara ini mampu memberi makan kepada 1,2 miliar penduduknya.

Soal etos sebagai faktor, diutarakan dengan jelas oleh seorang pembicara. Ia menyatakan, nilai-nilai budaya harus diterjemahkan menjadi etos supaya berfungsi. Diskusi mengenai etos masih tetap berjalan dalam kalangan ilmuwan sosial. Etos adalah perumusan tentang apa yang dianggap paling penting oleh sekelompok orang untuk pekerjaan yang dijalankannya, dan tingkah laku untuk mencapai kepentingan tersebut. Etos pun akan menetapkan segala sesuatu yang tidak boleh dilanggar dalam pelaksanaan suatu pekerjaan atau profesi.

Etos tidak persis sama dengan etika yang merupakan teori tentang baik dan buruk. Etos lebih menekankan pada apa yang penting dan pantas dilakukan atau tidak pantas dilakukan. Etos yang dimaksud itulah agaknya yang menjadi kultur di China sehingga etos menjadi faktor sangat dominan dalam proses produksi di China.

Mulai dari diri sendiri

Dua contoh tentang besarnya peran hukum dalam bidang ekonomi tersebut, Finlandia dan China, bisa menjadi refleksi bagi bangsa Indonesia. Pelajaran berharga yang bisa dipetik adalah konsistensi sebuah sikap. Hukum bukan menjadi kumpulan pasal peraturan, tetapi dijalankan secara konsisten.

Hukum hanya mengenal warna hitam dan putih, benar dan salah. Tidak ada warna abu-abu dan tidak ada merah atau hijau. Tidak ada setengah benar dan setengah salah. Hukum di sini selalu memandang semua orang sama di depan hukum.

Prinsip ini dipegang teguh sejak dari proses penyelidikan, penyidikan, peradilan, dan penjatuhan hukuman. Para aparat hukum bekerja dengan etos kerja yang jelas. Hakim dalam menjatuhkan putusan dipandang ”mewakili” Tuhan menghukum orang-orang yang bersalah.

Dalam bayangan para penegak hukum dan para perancang undang-undang, Indonesia akan meraih sukses luar biasa kalau hukum ditegakkan. Tegaknya supremasi hukum, seperti dipaparkan pada bagian awal tulisan ini, bukan saja berpengaruh kuat pada ketertiban serta pemerintah yang berwibawa, tetapi juga terutama menjadi penopang kinerja perekonomian negara.

Artinya, kalau hukum tegak, tidak ada uang semir, tidak ada KKN, ekonomi akan berjalan dengan amat baik. Semua perselisihan bisnis, perselisihan kontrak, wanprestasi, serta percekcokan debitor dan kreditor akan selesai melalui koridor institusi hukum. Tidak ada ”ekonomi biaya tinggi” di badan peradilan. Para pihak yang berselisih tidak perlu menyediakan anggaran khusus untuk uang semir bagi jaksa, polisi, panitera, dan hakim.

Para penegak hukum ini pun bisa leluasa menjalankan tugasnya karena mereka tidak perlu silau oleh penyuapan, koncoisme, dan kolusi. Hakim enteng saja menjalankan putusan sesuai dengan hati nurani dan hukum yang berlaku. Polisi atau jaksa enteng menyidik para tersangka dan saksi suatu perkara.

Aspek-aspek ini kelihatan sangat sederhana, tetapi pelaksanaannya sangat sulit. Buktinya, sejak tahun 1945 Indonesia sudah mencanangkan ”dunia peradilan bersih dari uang sogokan”, tetapi ternyata tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. Lihatlah, berapa banyak polisi, jaksa, dan hakim yang diadili. Yang diadili pun yang kebetulan ketahuan. Bagi yang tidak ketahuan, ia bisa melenggang dengan uang haramnya.

Dalam pemikiran kritis, persoalan ini hendaknya mulai dibenahi mulai hari ini agar ada target dan sasaran yang sangat jelas. Pada tahun 2010, misalnya, peradilan Indonesia sudah jauh lebih baik. Tahun 2015 bebas dari segala bentuk penyuapan dan ”biaya perkara”. Tahun 2030, supremasi hukum di Indonesia sudah menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

Dari mana memulainya? Dari diri sendiri, termasuk dari para pemimpin bangsa. Pemimpin yang tidak korup akan diikuti oleh menterinya, gubernur, wali kota, bupati, camat, lurah, kepala desa, sampai seluruh perangkat negara. Pada saatnya semua orang malu untuk korupsi. Malu untuk merebut uang rakyat, uang yang bukan menjadi haknya.

Faktor pemimpin selalu menjadi aspek menentukan. Kalau pemimpinnya baik, ia selalu menjadi teladan yang hebat. Sebaliknya, kalau pemimpinnya lalim, sebutlah seperti Hitler dan Polpot, negara dan aparatnya akan sangat kejam. Jutaan orang mati percuma.

Kalau seorang pemimpin berani dan visioner, sebutlah seperti Deng Xiaoping, negara akan sangat berprestasi. Bayangkan, ia bisa menemukan sistem yang memadukan sistem komunis dan mekanisme pasar. Ia bisa membawa China yang hancur akibat revolusi kebudayaan menjadi negara pemegang supremasi ekonomi dunia.

Para pemimpin Indonesia pun bisa melakukannya. Kesempatan untuk memberi yang terbaik untuk rakyat masih terbuka lebar. Cobalah.

Sumber: Abun Sanda, Hukum Tegak, Perekonomian Lancar
www.kompas.com/kompas-cetak/0605/20/sorotan/2662916.htm - 52k -