Monday, December 10, 2007

Sistem Pendidikan di Jepang

Jepang merupakan salah satu negara termaju dalam berbagai bidang kehidupan: ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan, sosial, politik, dll. Kemajuan-kemajuan ini tentu berkaitan erat dengan kemajuan pendidikan.

Bagaimana sistem pendidikan di Jepang?

Sistem pendidikan di Jepang dibangun atas prinsip-prinsip:

  • Legalisme
  • Administrasi yang demokratis
  • Netralitas
  • Penyesuaian dan penetapan kondisi pendidikan
  • Desentralisasi.

Pendidikan bertujuan:

  1. Mengembangkan kepribadian secara penuh dengan
  2. Berupaya keras membangun manusia yang sehat pikiran dan badan,
  3. Yang mencintai kebenaran dan keadilan,
  4. Menghormati perseorangan,
  5. Menghargai kerja,
  6. Mempunyai rasa tanggungjawab yang dalam, dan
  7. Memiliki semangat independen sebagai pembangun negara dan masyarakat yang damai.

Sistem administrasi pendidikan dibangun dalam empat tingkat: pusat, prefectural (antara propinsi dan kabupaten), municipal (antara kabupaten dan kecamatan), dan sekolah. Masing-masing tingkat administrasi pendidikan tersebut mempunyai peran dan kewenangan yang saling mengisi dan bersifat kerjasama. Disamping itu, terdapat asosiasi-asosiasi kepala sekolah, guru, murid, dan orang tua yang mendukung pengembangan sekolah.

Contoh tujuan pendidikan untuk tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) yang dirinci sampai tingkat kelas dapat dilihat dalam Gambar 1.



Gambar 1 Tujuan Pendidikan di Kawanigashi Junior Secondary School.

Tujuan pendidikan tersebut adalah untuk membesarkan anak yang sehat pikiran dan badan serta penuh estetika, sehingga dihasilkan murid yang ideal, yaitu murid yang selalu melatih diri sendiri, mengikuti aturan, bersedia bekerja secara sukarela, dan mempunyai dasar untuk berpikir secara internasional.

Selanjutnya, tujuan pendidikan di tingkat sekolah tersebut dijabarkan lagi ke dalam tujuan di masing-masing kelas seperti yang dapat dilihat dalam Gambar 1. (Kawanigashi Junior Secondary School, 2000).

Tujuan pendidikan ini lebih lanjut dijabarkan untuk setiap mata pelajaran dan bahkan untuk setiap pertemuan kelas. Untuk mencapai tujuan tersebut diuraikan materi apa yang akan dibahas, apa yang harus dilakukan murid, dan apa yang harus dilakukan guru, serta bagaimana cara melakukannya yang semuanya dinyatakan dalam rencana kerja (working plan) yang disiapkan guru untuk setiap pertemuan kelas. Dengan demikian, baik murid maupun guru memiliki pedoman arahan yang jelas dalam proses belajar-mengajar.

Pada umumnya metode pengajaran yang digunakan di sekolah-sekolah di Jepang adalah kombinasi dari:

  • Penjelasan dari dan tanya jawab dengan guru,
  • Diskusi antar murid, dan
  • Eksplorasi oleh murid sendiri dengan menggunakan alat pembelajaran.

Di awal biasanya murid memberikan penjelasan sebagai pengantar, kemudian murid melakukan diskusi sesama mereka dan atau mengeksplorasi menggunakan alat pembelajaran seperti multimedia, laboratorium, dll. sesuai dengan mata pelajaran dan kebutuhan. Hasil diskusi dan atau eksplorasi tersebut lalu dipresentasikan di depan kelas dengan bimbingan guru.


Sumber: Abas Ghozali
* Penelitian ini didanai oleh the Japan Intenational Cooperation Agency (JICA).

Wednesday, December 5, 2007

Etos Kerja Indonesia terburuk di Asia?

MENGAPA investasi asing di Indonesia terus menurun, justru pada saat negara-negara lain mengalami pemulihan, bahkan lonjakan tajam arus masuk investasi? Juga, kenapa investor hengkang, padahal dalam berbagai kesempatan para pejabat pemerintah masih begitu 'pede'-nya menyatakan, Indonesia sangat kompetitif, terutama dengan sumber daya melimpah dan upah buruhnya yang murah?

Memang benar, dari sisi biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalankan usaha (cost of doing business), Indonesia sebenarnya tergolong sangat kompetitif di Asia, seperti ditunjukkan dalam survei Political and Economic Risk (PERC). Sayangnya, sangat kompetitifnya Indonesia dilihat dari biaya untuk menjalankan usaha ini tidak cukup kuat dipakai untuk membujuk investor datang atau bertahan, karena pada saat yang sama risiko politik dinilai masih cukup tinggi.

Upah buruh ternyata juga bukan satu-satunya faktor penentu masuk atau tidaknya investasi, bertahan atau tidaknya investor dan ada atau tidaknya minat investor untuk melakukan ekspansi bisnis di suatu negara.

Dari survei PERC, setidaknya ada tujuh faktor lain yang dianggap penting oleh investor. Faktor-faktor tersebut adalah:

  1. Kemudahan mendirikan usaha,
  2. Ada atau tidaknya diskriminasi terhadap investasi asing yang baru masuk,
  3. Ada atau tidaknya perlakuan sama untuk investor asing yang sudah masuk dengan pelaku usaha lokal,
  4. Transparansi dalam persetujuan dan izin investasi.
  5. Ramah-tidaknya kebijakan imigrasi,
  6. Ada atau tidaknya mekanisme bagi investor untuk menyampaikan keluhannya kepada pemerintah, serta
  7. Tingkat responsivitas (kepekaan) pemerintah dalam menanggapi keluhan-keluhan investor.

Hampir dalam semua aspek tersebut, Indonesia merupakan yang terburuk kedua, setelah Vietnam.

***

KENYATAAN bahwa perusahaan-perusahaan asing selama ini lebih banyak memfokuskan diri pada investasi di sektor padat modal ketimbang padat karya, menunjukkan begitu ruwetnya persoalan yang dihadapi investor di negara ini, sehingga upah buruh murah pun sudah tidak mampu lagi menjadi daya tarik investor.

Sebagian besar tenaga kerja di Indonesia merupakan tenaga kerja berketerampilan rendah, sehingga produktivitasnya juga rendah. Banyak investor yang mengeluhkan sulitnya mencari, menyewa, atau mempertahankan staf yang berketerampilan tinggi. Sebenarnya investor ingin melibatkan sebanyak mungkin komponen lokal, agar biaya produksi bisa ditekan.

Namun, di Indonesia ternyata ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Akibatnya, banyak perusahaan asing akhirnya terpaksa harus menggunakan staf ekspatriat. Selain itu, para investor asing juga resah dengan semakin meningkatnya kecenderungan radikalisme dan aktivisme buruh.

Ini salah satu alasan, mengapa investasi yang masuk lebih banyak di industri-industri ekstraktif, seperti minyak dan gas (migas), yang biasanya berlokasi di wilayah-wilayah yang agak terpencil. Dengan demikian, lebih mudah menghindar dari potensi-potensi kerusuhan sosial, yang biasanya lebih mudah terpicu di daerah perkotaan.

Dilihat dari upah buruh, daya saing Indonesia setara dengan Cina, yakni yang termurah dari 12 negara Asia yang disurvei PERC (yakni Cina, Hongkong, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Korsel).

Namun, dari etos kerja, Indonesia ternyata yang terburuk di Asia. Ini tercermin dari skor indeks persepsi Indonesia di mata para ekspatriat yang disurvei yang angkanya 7,50 (dari angka terbaik nol dan terburuk 10 yang dimungkinkan). Sebagai perbandingan, Cina (3,75), Hongkong (2,81), India (6,75), Jepang (1,50), Malaysia (6,00), Filipina (6,20), Singapura (3,00), Korsel (1,50), Taiwan (3,71), Thailand (6,00) dan Vietnam (5,75).

Perbedaan nyata tenaga kerja di Indonesia dengan Cina, menurut seorang guru besar sebuah universitas terkemuka di Jepang, adalah di Cina tenaga kerja dari semua level keterampilan tersedia dalam jumlah melimpah dan juga murah. Persepsi investor terhadap buruh Cina pun cukup baik. Para buruh Cina dikenal sangat rajin, tidak banyak cing-cong dan memiliki kemauan tinggi untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan dirinya.

Meskipun tingkat upah tenaga kerja untuk level keterampilan tinggi belakangan ini mulai meningkat dengan cepat di Cina, tetap saja besarnya masih relatif rendah untuk standar internasional. Di Malaysia, Filipina, dan India, tenaga kerja berketerampilan tinggi juga tidak sulit dicari. Malaysia memiliki tenaga terampil yang kualitasnya lebih baik dibandingkan kebanyakan negara berkembang Asia lainnya. Hanya sayangnya, jumlahnya terbatas sehingga terjadi kelangkaan suplai tenaga kerja yang menyebabkan upah dengan cepat juga membubung tinggi.

Di Filipina, tenaga kerja merupakan salah satu aset terbaik dan potensi besar perekonomian, karena mereka umumnya memiliki latar belakang pendidikan yang baik dan fasih berbahasa Inggris. Dengan begitu, perusahaan asing yang beroperasi di sana hampir tidak menghadapi kendala dalam hal tenaga kerja.

Di Thailand, kondisinya kurang lebih sama dengan di Indonesia. Langkanya tenaga kerja berketerampilan tinggi ikut menghambat investasi dan ekspansi produksi, meskipun dalam hal tingkat upah buruh dan risiko radikalisme buruh, Thailand sebenarnya merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Untuk Vietnam, upah buruh sangat rendah, namun kualitas umumnya juga rendah.

Jika dalam hal buruh atau tenaga kerja Indonesia masih lumayan kompetitif di mata investor, tidak demikian halnya jika dilihat dari faktor kepastian hukum. Survei PERC menunjukkan Indonesia yang paling payah dalam hal penegakan hukum, dan kondisi ini tidak berubah sejak krisis.

Payahnya posisi Indonesia ini tercermin dari skor sebesar 9,83 menurut survei yang dipublikasikan akhir Mei 2002. Sebagai perbandingan, Australia (1,08), Cina (8,33), Hongkong (2,81), India (7,00), Jepang (3,67), Malaysia (5,86), Filipina (7,75), Singapura (1,70), Korsel (5,00), Taiwan (6,33), dan Thailand (7,78).

***

Dari angket yang dilakukan Gallup bulan April lalu, hampir dua pertiga (persisnya 73 persen) pengusaha AS di Asia Tenggara merencanakan melakukan bisnis di Asia dalam dua tahun ke depan. Namun, dari jumlah tersebut, dua pertiganya memilih Cina sebagai tempat untuk ekspansi.

Survei yang dilakukan terhadap para anggota Kamar Dagang Amerika (American Chamber of Commerce/Amcham) ini juga menunjukkan hanya 16 persen yang merencanakan untuk merelokasi industrinya atau mengurangi tenaga kerja lokal mereka. Bahkan, 32 persen merencanakan akan menambah staf lokal.

Dari sini terlihat betapa masih tingginya optimisme pengusaha AS terhadap prospek ekonomi kawasan. Lebih dari 50 persen juga yakin bisnis mereka di kawasan masih akan menjadi sumber profit, dan 80 persen yakin laba mereka akan meningkat pada tahun 2003.

Masih tingginya minat ekspansi mengindikasikan secara umum prospek investasi dan ekspansi ekonomi di kawasan masih akan cerah, setidaknya untuk beberapa tahun ke depan. Para pengusaha yang disurvei itu sendiri merepresentasikan nilai investasi sekitar 60 milyar dollar di Asia Tenggara.

Hanya sayangnya, momentum bagi Indonesia untuk merebut pangsa yang cukup besar dari investasi asing yang masuk ke Asia itu tampaknya terbentur oleh kendala klasik seperti diungkapkan Kepala BKPM Theo F Toemion. Kendala tersebut yakni faktor keamanan, ketidakpastian hukum, dan risiko politik. Jadi, tidak heran jika tak ada sesuatu lagi yang menarik di mata pengusaha penanaman modal asing (PMA), karena semuanya serba sulit bagi mereka. Kondisi inilah yang membuat mereka memposisikan Indonesia sebagai pilihan yang terakhir untuk mereka masuki. Walaupun dari banyak sisi Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa, tetapi tetap saja Cina menjadi prioritas mereka. (Sri Hartati Samhadi)


Sumber: Kompas, Juli 2002
URL Artikel : http://www.unisosdem.org/ekopol_detail.php?aid=301&coid=2&caid=30


Character Building Bangsa Jepang

Dunia pendidikan kita penuh paradoks. Contoh mencolok adalah ditetapkannya program Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun tetapi biaya pendidikan ditanggung peserta didik. Bahkan, fakta lapangan memperlihatkan lembaga pendidikan sedang berlomba menjadi sekolah mahal. Setelah melakukan ulasan atas fenomena pendidikan tersebut, Bpk Supriyono dosen FIP dan Pascasarjana UM mengusulkan agar sekolah unggulan yang mahal-mahal itu dihapus (Surya, 1/5/2003).

Konsekuensi dari program Wajar adalah bebas biaya. Bila tidak, Wajar menjadi tak ada artinya. Alasannya sederhana, kewajiban harus diikuti sanksi. Nah, bagaimana mungkin memberi sanksi pelanggar Wajar bila sekadar menyekolahkan anak-anaknya saja memang tidak mampu. Jumlah penduduk miskin bertambah secara signifikan sejak krismon, sebagai contoh Jatim mencapai angka 30 persen. Tulisan ini bermaksud menguatkan ide penghapusan sekolah mahal di atas.

Pendidikan ala pasar

Andai dunia pendidikan dapat diibaratkan sebagai wajah, maka make-up wajah pendidikan kita senantiasa berubah dari waktu ke waktu bergantung periasnya yakni Mendiknas. Periode sekarang merek make-up tersebut adalah KBK atau kurikulum berbasis kompetensi. Sebagaimana make-up yang sebenarnya, make-up pendidikan bisa dan boleh senantiasa berubah tetapi wajah pendidikan selalu tetap kecuali dilakukan operasi plastik. Wajah pendidikan kita adalah pasar.

Di antara sekian praktik yang menyebabkan pendidikan menjadi mahal ada satu yang cukup unik. Setiap awal tahun ajaran baru tim pemasaran dari penerbit buku masuk ke sekolah. Hasilnya, buku terbitannya menjadi pegangan tahun itu dan seyogianya dibeli. Uniknya, setiap tahun tim penerbit buku yang datang selalu berganti. Akibatnya buku pegangan pun senantiasa berganti sehingga seorang kakak tidak bisa mewariskan buku tersebut kepada adiknya. Seorang siswa yang tidak naik kelas pun tidak dapat menggunakan buku pegangan tersebut dua kali dan terpaksa harus membeli buku pegangan baru.

Praktik yang makin menyempurnakan wajah serta citra pasar lembaga pendidikan. Pada gilirannya meneguhkan tudingan bahwa sekolah adalah instrumen kapitalisme. Tak pelak juga Indonesia dengan ideologi Pancasila yang memang masih terbuka dengan berbagai muatan atau tafsiran ini.

Kesenjangan dini

Ada kenyataan yang harus kita akui bahwa para pendidik senior kita umumnya mengenyam pendidikan barat. Akibatnya aroma Barat dari pendidikan pun sulit dihindari. Hal ini bisa dilihat dari kandungan materi pendidikan yang sangat menekankan pengasahan akal (Intelligence Quotient, IQ). Padahal, tahun 2000 lalu menteri pendidikan AS mencak-mencak lantaran pendidikan bagi anak sampai usia 15 tahun AS kalah dari Jepang dan China dalam keterpaduan aspek IQ dan EQ (Emotional Quotient). Sebagai bahan perbandingan ada baiknya menambah acuan, untuk itu kita lihat sekolah di Jepang.

Jepang tergolong sebagai negara maju tetapi mampu bertahan dengan tradisi serta adat-istiadat ketimuran yang kental unsur mistisnya. Ada hal menarik tentang pendidikan di sana, yakni muatan character building pendidikan mereka sejak sekolah dasar (shougakkou) sampai dengan SMU (kotougakkou). Seperti dapat dilihat di film-film layar kaca, siswa-siswi SD negeri Sakura pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Sekitar pk 07.15 setiap kelompok yang terdiri dari lima atau enam siswa berangkat menuju sekolah. Pukul tiga atau empat sore mereka pulang dalam kelompok-kelompok dan setiap kelompok dipimpin seorang ketua.

Berjalan kaki dan pergi-pulang berkelompok sifatnya wajib bagi para siswa SD, tanpa pandang bulu. SD di sana menerapkan sistem rayon, anak-anak bersekolah di SD terdekat di masing-masing wilayahnya. Para orangtua tidak perlu memilihkan sekolah untuk anaknya karena pemerintah daerah setempat telah menetapkannya. Mereka tinggal mendaftar ulang. Jepang juga menerapkan Wajar karena itu pemerintah akan mendatangi orangtua termasuk orang asing yang tidak menyekolahkan anaknya yang sudah usia sekolah.

Ada tiga hal yang terkandung dari kewajiban di atas. Semangat juang, kebersamaan, dan tanggung jawab yang ditanamkan dan dipraktikkan secara langsung.
Bandingkan dengan tata-cara dan kebiasaan siswa-siswi SD di negeri kita. Siswa dapat pergi dan pulang secara bebas dalam arti boleh sendiri, bersama teman, atau diantar pembantu. Mereka pun boleh berjalan kaki, naik kendaraan umum, atau naik mobil orangtuanya. Tidak ada pendidikan etos kerja dan kebersamaan.

Makna lain yang tidak kalah seriusnya dari kebebasan di atas, SD kita diam-diam menciptakan kesenjangan sejak dini. Anak orang kaya terus menerus ditempatkan dalam suasana kemewahan. Sementara anak orang miskin dibiarkan dalam kekurangannya sambil nonton penampilan temannya yang anak orang kaya.
Negara diam-diam mendukung perbedaan kelas.

Keuletan

Pendidikan sikap dan karakter ini dijalankan di sekolah Jepang dalam berbagai bentuk. Dalam olahraga, setahun sekali yakni di musim panas siswa kelas satu sampai dengan kelas enam dibagi dalam dua kelompok besar yakni merah dan putih. Mereka berkompetisi dan semua jenis olahraga yang dipertandingkan adalah olah raga tim. Lagi-lagi kebersamaan dan teamwork mereka tekankan.

Setahun sekali pula diadakan pentas seni yang melibatkan seluruh siswa. Setiap siswa mendapat, berlatih dan memainkan satu atau dua peran. Uniknya pentas seni maupun lomba olah raga ini disaksikan oleh para undangan yang terdiri dari orangtua siswa, tokoh masyarakat, kepala sekolah TK, dan SLTP serta pemerintah lokal setempat.

Pendidikan seperti mencuci piring juga diajarkan di sekolah. Di Jepang tidak dikenal yang namanya pembantu rumah tangga. Ketika libur sekolah anak-anak SD meliburkan ibu mereka dari kegiatan mencuci piring di dapur dan pekerjaan itu mereka gantikan.

Fenomena unik lainnya dapat dilihat pada siswa SLTP dan SMU di sana. Mereka dibolehkan bersepeda ke sekolah, tetapi tidak diizinkan mengendarai sepeda motor apalagi mobil pribadi. Kalaupun terlalu jauh siswa boleh pergi dengan bus kota atau kereta api. Padahal kita semua mafhum bahwa Jepang adalah produsen utama kendaraan bermotor.

Perhatikan perilaku siswa-siswi SLTP dan SMU kita, tidak sedikit yang ke sekolah dengan mobil bahkan mengemudinya sendiri. Kita pun sering mendengar keluhan para orangtua yang anak-anaknya mogok sekolah lantaran tidak dibelikan sepeda motor. Betapa manjanya anak-anak kita. Fenomena ini juga mengisyaratkan betapa kacaunya lalu lintas dan sistem untuk mendapatkan surat izin mengemudi (SIM). Anak seusia SLTP yang belum genap 17 tahun sudah punya SIM, atau belum memiliki SIM tetapi sudah dapat leluasa mengemudi di jalan umum.

Fenomena sosial dalam lingkup lebih luas dapat dipahami dari fenomena lembaga pendidikannya. Sudah bukan rahasia bahwa masyarakat Jepang adalah masyarakat workaholic, gila kerja. Mereka sangat menghargai waktu dan pekerjaan. Hal ini dapat dilihat dari jawaban spontan anak-anak bila ditanya cita-cita mereka. Menjadi juru masak, penjual bunga, penjual buku dan sejenisnya yang sederhana adalah cita-cita mereka. Cita-cita seperti ini merupakan refleksi dan hanya dapat terjadi di masyarakat yang tidak memandang mulia satu jenis pekerjaan dan hina pekerjaan lainnya. Negeri yang sempat porak poranda oleh bom atom ini pun berhasil mewujudkan impian kolektif mereka, mengalahkan dan melampaui Amerika, setidaknya dalam ekonomi.

Berbeda dari bocah Jepang yang umumnya bercita-cita sederhana, bocah Indonesia umumnya bercita-cita tinggi seperti menjadi insinyur dan dokter. Tetapi tidak adanya character building dalam pendidikan menyebabkan rendahnya kemauan serta semangat juang masyarakat maupun para petinggi kita. Daya tahan lemah dan gampang menyerah. Akibatnya, cita-cita tinggi para bocah muncul tanpa ruh dan di masa berikutnya menjadi keinginan sekadar bisa hidup. Celakanya, sekadar hidup itupun seringkali juga ditempuh via jalan pintas.

Kerapuhan mental ditambah dengan ketiadaan impian kolektif bangsa, menyebabkan masyarakat tidak mempunyai energi dan semangat hidup yang besar. Kini, rendahnya semangat hidup ini telah sampai pada kondisi yang menyedihkan. Perhatikan saja fenomena persimpangan jalan, perkantoran dan para petinggi yang keluar negeri mencari pinjaman; fenomena mentalitas pengemis.

Keruwetan sistem pendidikan dan kondisi sosial negeri ini sudah seperti benang kusut. Pembenahan harus dibenahi di semua lini. Untuk lini pendidikan perlu dilakukan bedah plastik wajah pendidikan, dan pola character building pendidikan Jepang layak untukdipertimbangkan. Semangat dan etos kerja, kebersamaan, tanggung jawab dan menghargai pekerjaan diajarkan secara konkret dan keteladanan bukan dengan kata-kata.

Sistem rayon (tingkat SD dan SLTP) sebagai kebijakan terkait akan membantu pemerataan kualitas sekolah. Sistem ini juga memungkinkan keterlibatan dan pengawasan masyarakat dalam pendidikan. Pada gilirannya tidak relevan membicarakan sekolah unggulan, sekolah plus atau pun sekolah borjuis yang diskriminatif.

Untuk mengadopsi sistem asing manapun tidaklah bisa serta merta dan seketika, sebab pendidikan memang tidak berdiri sendiri. Namun meniru pola Jepang relatif tidak memerlukan dana sehingga kemiskinan bangsa ini bukanlah kendala utama. Penulis sengaja tidak menampilkan aspek-aspek intelektualnya sebab dari sisi ini kita tidak kalah dari negeri lain manapun. Tetapi kemampuan itu tidaklah terlalu berarti tanpa dibarengi pendidikan karakter yang membangun sikap dan komitmen.

Character building yang pernah menjadi wacana di awal berdirinya republik ini mendesak diangkat kembali. Bahkan lebih dari itu, mendesak dijadikan kandungan utama pendidikan kita. Semua itu diperlukan agar bangsa ini kembali mampu berjalan tegak dengan harga diri. Selain itu, negara harus menanggung biaya Wajar. Tuntutan ini pun bukan mustahil dipenuhi oleh negara pascaamandemen UUD yang menetapkan 20 persen APBN harus dialokasikan untuk pendidikan. Kita tidak ingin Wajar sekadar jadi bentuk cuci tangan pemerintah atas kewajiban memenuhi hak pendidikan warga negaranya.


Sumber: Agus Purwanto, Pekerja pendidikan di LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) ITS yang juga alumnus Universitas Hiroshima Jepang.
http://www.surya.co.id/18062003/12a.phtml -www.its.ac.id/berita.php?nomer=838 - 20k


Wednesday, November 28, 2007

Rahmat : Unsur Yang Hilang Dari Dunia Kerja

Tersebutlah kisah seorang manajer yang gagal memimpin sebuah projek sehingga perusahaannya rugi lebih sejuta dolar. Tom Watson, pendiri IBM yang legendaris itu, kemudian memanggilnya. Merasa bahwa dirinya akan dipecat, si manajer mendahului vonis sang bos dengan berkata, "Tuan, silakan memecat saya, I deserve it, saya memang gagal." Tanpa diduga Tom Watson membentak, "Gila lu! Kamu satu-satunya karyawan yang telah disekolahkan dengan biaya sebesar itu, kamu pikir saya tolol mau memecatmu?"

Konon, manajer yang mendapat pengampunan ini, kelak menjadi salah satu manajer terbaik di IBM, antara lain dengan menyumbang jauh lebih besar daripada uang sekolahnya. Inilah kisah yang telah diulang-ulang orang dengan berbagai versi sampai kita tidak tahu lagi versi mana yang benar. Tentu dengan berbagai pesan pula. Tetapi kali ini saya mau pakai sebagai ilustrasi rahmat atau anugerah.

Rahmat, anugerah, pengampunan, pertobatan, kasih sayang, memang seolah-olah bukan bahasa orang kantor. Itu bahasa para begawan yang tiap hari menggumuli kitab suci. Di kantor orang diharapkan berbicara tentang reward and punishment, perampingan dan restrukturisasi, sukses atau mundur, hak dan tanggung jawab. Ya, semuanya bahasa macho, sangat maskulin, sangat patriarkhal. Dunia kerja yang didominasi laki-laki, memang terasa keras, tegas, dingin, disiplin dan menakutkan.

Akan tetapi, hidup termasuk kerja tidak mungkin berwatak maskulin saja. Maskulin memang baik, tetapi terlalu maskulin, alangkah gersangnya, dan ujung-ujungnya membawa kematian. Maka ketika dewasa ini bau sangit kematian ada di mana-mana, patutlah kita curiga, jangan-jangan dosis maskulinitas di republik ini sudah kelewatan. Dan saya memang meyakini hal itu. Dunia politik kita, dari Ken Arok sampai Panembahan Senopati, dari Prabu Kartanegara sampai Presiden Soeharto, memang selalu keras, bahkan terlalu keras. Dengan mudah kita lihat pula bahwa dominasi kejantanan yang keras itu amat nyata di dunia bisnis, hukum, pendidikan, bahkan dalam agama.

Akibat dosis kebapakan yang berkelebihan itu, terjadilah ketidakseimbangan. Jika Anda masih ingat film The Sound of Music, disiplin militer yang diterapkan sang bapak yang telah menduda itu, justru mematikan jiwa ketujuh anak-anaknya di tengah niat baiknya mencintai mereka. Tetapi life back to normal ketika si cantik hangat, suster Maria, representasi femininitas universal, memasuki kehidupan rumah sang kapten. Maka kembalilah tawa, ceria, canda, sukacita, kehangatan, musik, pengampunan, rahmat dan cinta ke dalam kehidupan. Indah dan mengharukan. Tidak herankan mendiang Jenderal Alamsyah Ratuperwiranegara sampai menonton film itu belasan kali.

Rumah tangga republik ini, saya kira, juga rusak berat justru karena dominasi jiwa kelaki-lakian telah terlalu kuat. Bahkan Fritjof Capra, sarjana fisika yang juga mistikus itu, dalam The Turning Point: Science, Society, and The Rising Culture, berpendapat bahwa krisis global dewasa ini, akar terdalamnya terletak pada ketidakseimbangan unsur kebapakan dan keibuan ini dalam tatanan ideo-politikal, sosio-kultural, bisnis-ekonomikal, sains-teknologikal, dan bio-ekologikal kita. Semuanya terlalu macho, jantan, patriarkal, kelaki-lakian, kaku, keras dan mekanistik.

Atas dasar tesis inilah saya mempromosikan doktrin kerja yang berwatak feminin untuk mengimbangi watak maskulin yang sudah dominan selama ini. Etos pertama yang menjadi sajian saya kali ini berbunyi: Kerja itu Rahmat; Kerja adalah Terimakasihku; sehingga Aku Mampu Bekerja Tulus Penuh Ucapan Syukur. Mudah-mudahan Anda segera merasakan nuansa femininitasnya.

Menurut kamus Webster, rahmat adalah pemberian baik yang kita terima bukan karena jasa kita, tetapi karena kebaikan sang pemberi. Jadi, respons yang tepat hanyalah bersyukur dan berterima kasih. Hal inilah yang dirasakan manajer IBM dalam kisah di atas. Rasa syukurnya menjadi motivasi superior untuk berprestasi karena hatinya tersentuh dan karena itu ia diubahkan secara fundamental. Hukuman pecat sebagai konsekuensi keadilan dalam dunia manajemen yang macho, berubah menjadi pengampunan dan rahmat yang membuka peluang baru untuk memperbarui diri. Inilah watak seorang ibu yang penuh kasih sayang. Dan elemen keibuan inilah yang hilang di Aceh, Ambon, Dili, dan kota-kota lain di negeri kita yang kini sedang gering.

Saya berkata, bahwa kerja pun adalah rahmat, jadi seyogianya disyukuri setidaknya karena tiga alasan. Pertama, dari segi spiritual, kerja itu secara hakiki adalah rahmat Tuhan. Artinya, lewat pekerjaan, Tuhan memelihara kita. Kedua, di samping upah finansial kita juga menerima banyak sekali faktor plus dari pekerjaan kita, misalnya fasilitas belajar, kesempatan mengunjungi negeri asing, dan wahana hubungan silaturahmi. Faktor-faktor plus ini pun adalah rahmat juga. Ketiga, potensi kerja diri kita (skills, knowledge) adalah God's endowment kepada kita secara personal yang kemudian kita aktualisasikan dalam bekerja mengolah bumi dan segenap isinya menjadi produk jadi yang bernilai tambah positif. Yang terakhir ini pun rahmat juga adanya. Jadi dari mana pun Anda lihat, selalu dapat kita akui bahwa work is really a grace. Kerja adalah rahmat.

Karena itu sepantasnyalah kita bekerja dengan hati yang tulus dan bersih. Bekerja tidak boleh bersungut-sungut, mengeluh, atau setengah hati karena kita sadari sekarang bahwa bekerja adalah bentuk terima kasih kita kepada Tuhan, kepada negara, kepada rakyat, kepada pemilik modal, atau kepada manajemen.

Bayangkan seorang fakir mampir di rumah Anda. Karena Anda berbelas kasihan, fakir itu Anda undang masuk dan menghidanginya makanan dari meja keluarga Anda. Tetapi ketika ia mulai makan, ia mengeluh betapa gosongnya tempe goreng masakan nyonya rumah. Ia juga meradang betapa kurang pedasnya sambel ulekan dari dapur Anda.

Apakah reaksi Anda sebagai tuan rumah? Menurut saya, jika Anda menendang pantatnya dan mengusirnya keluar, hal itu sangat pantas. Itu adil baginya karena ia tidak tahu diri. Akan tetapi, saya berkata sesungguhnya saya dan Anda adalah juga fakir di bumi ini. Dalam hal inilah saya tidak sependapat dengan Pramudya Ananta Toer yang berkata bahwa planet ini adalah bumi manusia. Bagaimana hal itu mungkin? Mengerti bumi ini saja kita tidak mampu, mengaku diri pula pemiliknya. Atau jika benar manusia adalah pemilik bumi, mengapakah bumi kita kotori dan perkosa dengan amarah meradang.

Al Qur'an mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di bumi Allah. Artinya, manusia adalah pengelola yang harus ber-tanggung jawab. Alkitab mengajarkan bahwa manusia adalah steward (penatalayan) di bumi Tuhan. Bagaikan stewardess di pesawat, tugas kita adalah menata sumberdaya alam milik-Nya dan melayankannya untuk kesejahteraan semua penumpang kapal besar ruang angkasa bernama planet bumi. I Ching mengajarkan bahwa kita harus hidup harmonis dengan alam. Sedangkan Iliad mengajarkan bahwa bumi adalah Gaia, the living mother earth, yang harus disayangi sebagai balas cinta kasihnya.

Secara hakiki bekerja adalah mengolah sumberdaya bumi untuk kesejahteraan kita bersama. Apa pun yang kita kerjakan, yang high tech sekalipun, yang konseptual sekalipun, tetaplah tidak terlepas dari unsur-unsur bumi. Meskipun menurut Mahatma Gandhi bumi tidak mampu memuaskan keserakan satu orang saja, tetapi bumi dengan segenap kekayaannya, dengan segenap kasih sayangnya sebagai ibu pertiwi, pasti lebih dari cukup mensejahterakan semua anak-anak bumi melalui kerja.

Maka kita harus mengembangkan sebuah kesadaran baru, a new awareness, a deeper consciousness bahwa kita sesungguhnya sudah terlebih dahulu menerima dengan limpah, dari bumi, dari Tuhan, dari organisasi, dari negara dan rakyat, maka kita pun sepatutnya membalasnya dengan limpah pula. Abundantly.

Menyadari bahwa rahmat selalu melimpah, maka kita pun akan terimbas untuk bermental limpah terhadap sekeliling sehingga membentuk karakter limpah (abundance character) dalam diri kita. Penampakannya bermacam-macam, antara lain: senang menolong; tidak pelit; tidak takut kekurangan; selalu merasa ada alternatif di samping pilihan yang obvious; mampu memberi dulu, kemudian menerima; sanggup menabur dulu, kemudian menuai; selalu bersikap menawarkan; selalu berpikir kontributif.

Manusia berkarakter limpah memang berjiwa besar karena ia selalu sadar bahwa Sang Maha Pemberi selalu merahmati dengan limpah. Dengan jiwa besar, hati penuh syukur, maka dia akan selalu diliputi sukacita sejati dan rasa bahagia. Sukacita kerja ini (the joy of working) akan membuatnya produktif dan mampu menjadi aktor positif dalam menciptakan suasana kerja yang gembira dan menyenangkan. Di mana pun berada, ia selalu menjadi protagonist, bukan antagonist. Jadi jelaslah bekerja dengan modus ini akan mentransformasikan kita menjadi pribadi yang kaya, dewasa dan lembut. Maka Etos Kerja pertama ini memampukan kita menjadi pribadi sukses yang mampu menikmati keberhasilan kerja sampai ke hati yang dalam. Semogalah demikian!

Sumber: Jansen H. Sinamo, Guru Etos Indonesia


Praktik Kerja Industri di Jepang Yang Dicari Ternyata Etos Kerja

Anak-anak lulusan sekolah menengah dari Indonesia dengan sigap bekerja di sebuah Koperasi Pemasangan Interior Mobil di Ota, Provinsi Gunma, Jepang. Mereka bekerja dengan cekatan, layaknya seperti robot-robot industri dan hanya mengerjakan satu jenis pekerjaan saja. Meskipun ada mesin-mesin canggih, mesin itu tidak bisa bekerja sendiri. Mesin itu masih membutuhkan tenaga kerja manusia. Artinya, ada nilai "kemanusiaan" yang diambil dalam sebuah hasil produksi.

Keahlian untuk bekerja di industri pembuatan interior mobil ini pun sebenarnya bukan sesuatu yang sangat canggih dan rumit. Bahkan, keahlian itu sudah bisa dikuasai dengan baik hanya dalam waktu satu bulan. Selanjutnya, hanyalah pekerjaan pengulangan saja. Bagian tersulit ternyata pada disiplin waktu. Mesin dijalankan dalam waktu-waktu tertentu untuk mencapai hasil yang optimal. Karena itulah, tenaga kerja yang turut membantunya harus bekerja cepat dan tepat seiring berputarnya roda mesin.

Disiplin "mesin", inilah yang sering kali membuat anak-anak lulusan sekolah menengah itu keteteran. Banyak di antara mereka yang tidak sanggup untuk sekadar berdiri selama tujuh jam sehari untuk melayani mesin industri menghasilkan suatu produk. Pasalnya, mereka memang tidak pernah dididik dalam disiplin mesin, atau sekadar berlatih berdiri dalam waktu lama di sekolah. Tidak heran jika anak-anak Indonesia yang melakukan magang kerja di Koperasi Pemasangan Interior Mobil ini, pada awalnya merasa tersiksa untuk bisa berdiri lama.

Industri yang antara lain memproduksi panel interior pintu mobil dan dashboard ini sudah tiga belas tahun menerima lulusan sekolah menengah dari negara Asia lainnya untuk magang kerja. Setiap tahunnya, Koperasi Pemasangan Interior Mobil ini biasanya menerima 15-20 orang peserta magang. Jumlah peserta magang tahun ini keseluruhannya ada 52 orang.

Sampai saat ini, sudah 212 peserta magang dari Indonesia. Semua dinyatakan berhasil mengikuti pelatihan dengan baik, tanpa gagal. Tidak heran kalau peserta magang dari Indonesia menjadi lebih disukai.

Agar bisa mengikuti magang kerja di Koperasi Pemasangan Interior Mobil di Ota ini tidak banyak persyaratan yang harus diikuti. Mereka harus lulus seleksi di Indonesia yang diadakan oleh Yayasan Asian Youth Center. Persyaratan umumnya harus lulusan sekolah menengah.

Persyaratan lain yang harus dilewati adalah lulus tes IQ (intelligence quotient) dan wawancara. Tes wawancara ini untuk mengetahui sejauh mana minat dan ketertarikan seorang anak untuk magang di industri. Mereka yang dinyatakan lulus seleksi akan mengikuti pelatihan persiapan selama dua bulan di Pusat Pengembangan Penataran Guru Teknologi (PPPGT) Malang. Pelatihan persiapan di PPPGT ini pun merupakan bagian dari rangkaian proses seleksi. Jika bisa melewati tahapan ini, barulah mereka akan diberangkatkan ke Jepang.

Selama 10 bulan pertama peserta magang akan mengikuti pelatihan kerja di Jepang. Selama mengikuti pelatihan itu, peserta magang diwajibkan mempelajari bahasa Jepang. Pelajaran bahasa ini diberikan selama tiga kali seminggu, yaitu pada hari Rabu dan Jumat dilakukan seusai pelatihan, yaitu pada pukul 16.00- 18.00, dan pada hari Sabtu dari pukul 09.00-16.00.

Bagi anak yang dinyatakan lulus pelatihan ini, maka mereka diizinkan untuk mengikuti magang kerja selama dua tahun lagi di industri pembuatan interior mobil tersebut. Penilaian keberhasilan sebagai trainee praktik kerja ini dilakukan oleh Japan International Training Cooperation. Selain itu, evaluasi sikap hidup para peserta magang selama di Jepang juga turut menentukan. Jadi, secara keseluruhan anak-anak ini akan mengikuti magang kerja selama tiga tahun. Selama tiga tahun itu, siswa yang melakukan magang kerja di Jepang akan mengantongi uang sekitar tiga juta yen atau sekitar Rp 240 juta (kurs 1 yen = Rp 80).

Selama magang, mereka ditempatkan di sebuah asrama yang disediakan oleh perusahaan. Di asrama ini, setiap anak dididik untuk mandiri dan mengerjakan segala sesuatu kebutuhannya sendiri. Mereka diwajibkan merapikan tempat tidur serta menjaga kebersihan dan kerapian asrama. Tidak heran jika tempat tidur dan kamar mandi yang disediakan di asrama ini juga bersih dan rapi.

Ingin jadi petani

Meskipun praktik kerja industri di Koperasi Pemasangan Interior Mobil di Ota, Provinsi Gunma, Jepang, ini memberikan pengalaman kerja industri, tidak bisa menutup keinginan mereka yang mengikuti praktik untuk menjadi petani. Paling tidak, itulah pengakuan Mustakin yang sudah dua setengah tahun di Jepang. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nasional Malang ini mempunyai rencana untuk mendirikan pertanian yang dikelola seperti di Jepang.

"Setiap ada kesempatan libur, saya pergunakan untuk jalan-jalan ke daerah pertanian di sekitar asrama. Saya melihat sistem pertanian di Jepang dikelola secara efisien sekali meskipun peralatan pertaniannya tidak semuanya modern dan canggih," ujar Mustakin.

Menurut Mustakin, keinginan untuk mengembangkan pertanian di Malang itu justru muncul setelah berkenalan dengan petani di Jepang. Tidak seperti di Malang, petani di Jepang lebih makmur dibandingkan dengan pekerja di industri. Petani di Jepang memiliki lahan pertanian yang cukup luas, didukung dengan pengetahuan pertanian dan penguasaan bisnis pertanian yang baik.

"Itu sebabnya, uang yang saya peroleh di sini nantinya akan saya belikan tanah di Malang agar saya dan orangtua bisa mengolah tanah tersebut menjadi lahan pertanian yang maju," ujarnya.

Selain bisa mengembangkan pertanian, menurut Mustakin, siapa tahu justru bisa membuka kesempatan kerja bagi orang-orang yang menganggur di Malang. Sebenarnya, pekerjaan di bidang pertanian itu sangat beragam jumlah dan jenis pekerjannya. "Jika dilakukan dengan serius dan tekun, maka lahan pertanian yang miskin sekalipun pasti akan menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit," ujarnya.

Berbeda dengan Mustakin, Lyona, lulusan Sekolah Menengah Umum (SMU) di Blitar, tetap berharap bisa bekerja di industri otomotif. Namun, Lyona ragu apakah ada industri otomotif yang memiliki prosedur kerja yang sama dengan di Jepang. Selain itu, proses dan jenis pekerjaannya tentu saja akan sangat berbeda.

"Itu sebabnya, saya sendiri berharap bisa memasuki dan bersaing di dunia kerja di Jepang. Saya yakin bisa, tinggal lagi mengikuti tes bahasa Jepang. Karena memang ada persyaratan khusus terkait dengan penguasaan bahasa Jepang," ujarnya.

Rekan magang Lyona, Yana, yang berasal dari SMU di Ciamis, juga sama-sama memiliki cita-cita ingin bekerja di Jepang. Menurut Yana, bekerja di Jepang bukan sekadar karena imbalan jasa yang lumayan besar, melainkan juga memberikan pengalaman kerja dan bersentuhan dengan industri yang memiliki disiplin tinggi. "Kalaupun nantinya saya kembali ke Indonesia, saya berharap bisa diterima bekerja di industri yang memiliki disiplin kerja yang sama," ujarnya.

Seperti halnya Mustakin, Lyona dan Yana juga memiliki cita-cita untuk mempunyai usaha sendiri. Baik Lyona maupun Yana menyadari tidak mudah untuk bisa bekerja di Jepang. Apalagi kemampuan yang mereka miliki masih terbatas seperti pekerjaan kuli.

Mereka juga menyadari bahwa dalam pekerjaan magangnya lebih banyak menggunakan kekuatan tenaga fisik saja. Meskipun terbuka kesempatan dan bebas mengemukakan ide-ide yang bermanfaat untuk kemajuan industri, proporsinya masih sangat sedikit sekali.

Tidak heran jika Lyona dan Yana serta rekan-rekan mereka yang magang di Jepang pun banyak yang berkeinginan untuk membuka usaha sendiri. Tidak mudah memang untuk memulai usaha sendiri, namun bekal ketekunan dan kedisiplinan, yang pernah dirasakan selama mengikuti magang di Jepang, mereka rasakan cukup.

Adakah pembinaan dari pemerintah terhadap mereka yang bercita-cita turut mengurangi angka pengangguran ini? Haruskah optimisme calon wiraswastawan muda ini pupus karena kondisi sistem perekonomian nasional tidak bisa mendukung rintisan usaha kecil? Padahal, usaha kecil banyak yang terbukti mampu bertahan selama krisis yang melanda di Indonesia. (MAM).

Sumber: www.kompas.com, Desember 2003

MANUSIA LEGOWO

Salah satu bentuk keikhlasan yang amat penting ialah legowo, yakni kerelaan yang tulus to let something go; membiarkan sesuatu pergi dan hilang, apakah jabatan, fasilitas, atau harta benda. Ketika orang lengser dari jabatannya— atau kehilangan apa pun for that matter — umumnya orang akan merasa sangat kehilangan. Tanpa konsep rahmat, rasa kehilangan itu terasa sangat pedih dan menyakitkan.

Namun, orang yang mengenal rahmat tahu bahwa semua yang pernah diterimanya — apakah nyawa, rupa, kegagahan, kecantikan, kepandaian, harta, jabatan, anak, istri atau suami — pada suatu saat, cepat atau lambat, pasti akan dilepaskannya.

Soeharto misalnya, salah satu presiden terkaya dan terkuat di bumi pada zamannya, akhirnya juga harus kehilangan hampir semuanya: istrinya, menantunya, sahabat-sahabatnya, kesehatannya, kemuliaannya, dan kekuasaannya. Dan hal ini tidak khas mantan presiden. Tidak pula khas orang jahat. Anda dan saya juga, pada suatu saat, harus kehilangan semuanya. Ketika kita memasuki liang lahat, maka secara mutlak kita meninggalkan semuanya. Inilah makna kefanaan dalam arti sesungguhnya. Tanpa rasa legowo orang akan sengsara dan patah hati saat kehilangan. Dan emosi ini sangat berbahaya bagi kesehatan jiwa kita dan tubuh kita.

Kemampuan legowo inilah yang ditunjukkan William Soeryadjaja, mantan pemilik Grup Astra yang kehilangan kerajaan bisnisnya secara tragis. Namun karena keyakinannya pada rahmat Tuhan, ia masih tetap mampu tertawa terbahak-bahak sambil mengisap cerutu kesayangannya. Ketika usianya mulai berkepala tujuh, ia masih sanggup memulai bisnis baru. Saat itu dilaporkan ia pun masih sanggup makan sate 40 tusuk.

Kemampuan serupa juga ditunjukkan Kuntoro Mangkusubroto. Di puncak keberhasilannya, ia dipecat dari jabatan Dirjen Pertambangan Umum oleh atasannya Menteri Pertambangan dan Energi pada zaman Kabinet Pembangunan VI antara lain gara-gara kasus Busang. Tetapi dengan legowo, jiwa besar dan pikiran positif, ia tidak menjadi patah semangat. Mantan Dosen ITB ini setahun kemudian terpilih menjadi menteri menggantikan sang pemecatnya. Ikut lengser dari kedudukan menteri bersama usainya Kabinet Habibie yang pendek, ia kemudian sanggup legowo berbesar hati menerima jabatan “cuma” sebagai Dirut PLN di zaman Kabinet Gus Dur. Namun pada awal tahun 2001 ia juga harus turun jabatan sebagai Dirut PLN, dan kembali ke kampus almamaternya, Institut Teknologi Bandung.

Orang yang mengenal rahmat, orang yang sudah dilawat oleh rahmat, akan mampu bekerja dengan pengabdian yang tulus. Ini misalnya ditunjukkan oleh Romo Mangun [1920-2000], seorang pastur dari Yogyakarta. Secara kristal, hidupnya adalah pengabdian yang tulus, khususnya kepada orang miskin dan terpinggirkan oleh roda kekuasaan yang tidak mengenal belas kasihan. Pembelaannya yang paling terkenal ialah kepada penduduk pinggir Kali Code di Yogyakarta. Ia mengancam mogok makan apabila pemerintah berkeras menggusur mereka. Ini sebuah keberanian yang taruhannya nyawa saat rezim Orde Baru yang militeristik sedang jaya-jayanya. Ia juga nekat membela masyarakat gusuran waduk Kedung Ombo di daerah Boyolali. Ia pernah diinterogasi aparat keamanan tetapi kemudian bertaruh nyawa sembunyi dalam bagasi mobil agar bisa masuk ke daerah terlarang itu. Ini pun sebuah taruhan leher pada saat tak kurang dari Presiden Soeharto saat itu mencap warga Kedung Ombo sebagai orang-orang mbalelo.

Di tempat kerja, orang yang percaya pada rahmat akan mengenal rahmat itu dan mengalaminya secara riil. Dia akan berubah karena lawatan rahmat itu dan menjadi distributor rahmat. Dia akan menjadi tokoh protagonis dalam menciptakan suasana kerja yang menyenangkan. Dia menjadi pribadi yang selalu bersukacita bagaikan air mancur yang bersumber dari dalam hatinya. Tidak heran semua menyukainya, vertikal maupun horizontal. Dan menurut pendapat saya inilah tujuan rahmat terpenting: yaitu agar oleh jamahan rahmat kita semua menjadi manusia yang rahmatan, menjadi manusia yang sungguh-sungguh baik. Jelas, bahwa tanpa rahmat, Anda dan saya tidak mungkin menjadi manusia, apalagi menjadi manusia yang baik.


Sumber: Jansen H. Sinamo dalam bukunya "8 Etos Kerja Profesional - Navigator Anda Menuju Sukses"

Tuesday, November 6, 2007

Info Training "8 ETHOS", November 2007

Mengapa Tenaga Kerja Indonesia dihargai sangat rendah di dunia? Mengapa Indonesia banyak tertinggal dibanding bangsa-bangsa Asia lainnya? Mengapa bangsa kita seolah tak berdaya di bawah tekanan bangsa lain? Bukan hanya di tingkat bangsa dan negara, di tingkat organisasional dan manajerial pun banyak keluhan dan kritikan ditujukan kepada SDM Indonesia yang secara nyata belum mampu menunjukkan keunggulan kualitasnya di era digital global ini. Apa yang harus dibenahi? Bentuk semangat (spirit) macam apa yang perlu segera dibangun dan dihayati oleh semua insan negeri ini?

Berbagai studi sosiologi dan manajemen menunjukkan bahwa keberhasilan suatu bangsa terletak pada etos kerja warganya. Sumber Daya Manusia memegang peranan kunci bagi kemajuan dan keunggulan suatu bangsa.

Bagaimana SDM Indonesia mampu melepaskan diri dari stigma negatif tersebut dan berjuang merebut keunggulan dan kejayaan kita sebagai bangsa?

Setiap perubahan tak lepas dari cara berpikir (paradigma), apa yang diyakini (keyakinan) dan semangat untuk berubah dari manusianya.

Pelatihan "8 ETHOS" yang dirancang dan dikemas khusus oleh Jansen H. Sinamo mencoba memberikan navigasi berupa cara pandang (paradigma) dan nilai-nilai keyakinan yang baru untuk membangun etos kerja bangsa Indonesia yang unggul dan terpercaya untuk menjawab tantangan global di atas tadi.

Disajikan dalam durasi 2 hari, Materi Pelatihan meliputi:
1. Apakah 8 Etos Kerja Profesional itu?
2. 8 Paradigma Kerja Profesional :
  • Etos 1: Kerja adalah Rahmat; Aku Bekerja Tulus Penuh Rasa Syukur
  • Etos 2: Kerja adalah Amanah; Aku Bekerja Benar Penuh Tanggungjawab
  • Etos 3: Kerja adalah Panggilan; Aku Tuntas Penuh Integritas
  • Etos 4: Kerja adalah Aktualisasi; Aku Keras Penuh Semangat
  • Etos 5: Kerja adalah Ibadah; Aku Bekerja Serius Penuh Kecintaan
  • Etos 6: Kerja adalah Seni; Aku Bekerja Cerdas Penuh Kreativitas
  • Etos 7: Kerja adalah Kehormatan; Aku Bekerja Tekun Penuh Keunggulan
  • Etos 8: Kerja adalah Pelayanan; Aku Bekerja Paripurna Penuh Kerendahanhati
3. Bagaimana menciptakan Budaya Kerja Unggul dengan 8 Ethos?

Pelaksanaan:

Pelatihan 8 Ethos angkatan terakhir di tahun 2007 ini akan diselenggarakan pada:

Hari/tgl : Rabu-Kamis, 28-29 November 2007,
Jam : 07.00-
16.00 WIB
Tempat :
Hotel Menara Peninsula,
Jl. S.Parman, Slipi - J
akarta Barat

Investasi: Rp 2.500.000,-/peserta
(termasuk modul, buku teks, sertifikat, coffee break & lunch).

Early bird sebelum tanggal 21 November 2007 cukup membayar Rp 2.250.000,-/peserta.

GRATIS hadiah langsung 4 buku & 1 CD Audio dari Jansen H. Sinamo untuk setiap peserta.

Bagi pendaftar 3 orang/lebih akan mendapatkan diskon langsung sebesar 20%.


F
asilitator:

Seorang maestro pelatihan. Pengalamannya sangat luas dalam membawakan seminar dan training di berbagai lembaga dan korporasi milik negara seperti Bank Indonesia, BPPT, ITB, DPRD, Aneka Tambang, Telkom, Indosat, Jiwasraya, Bank Mandiri, BNI, BRI, Jasa Marga, dan sejumlah PTPN; perusahaan swasta nasional seperti Astra Group, Kompas-Gramedia Group, Indomobil, Bank NISP, Bentoel, Bumiputra, BCA, Konimex Group, United Tractors; termasuk korporasi multinasional seperti SOGO, Caltex, Charoen Pokphand, Mandom, VICO, Bank Amro, TNT, dan American Express; termasuk berbagai LSM seperti World Vision, Bina Swadaya, dll.

Jansen H. Sinamo telah menulis 6 buah buku dan audiobook yang lahir dari pengalaman, renungan, perbandingan, dan bacaannya atas ribuan buku dan literatur lain. Dalam sekitar 20 tahun karirnya sebagai public speaker, fasilitator, dan instruktur, dia telah melatih ratusan ribu orang mulai dari tingkat pelaksana, clerk, wiraniaga, teller bank, tingkat manajer, direktur, CEO, bupati, direktur jenderal, hingga level menteri.


Pendaftaran:

Hubungi Ester S.Devi di 0816-547-3500 atau e-mail: estershd@gmail.com